Friday, July 9, 2010

Zuhud Pada Dunia

Selain setan dan hawa nafsu, penghalang manusia dalam menggapai mardatillah adalah dunia yang diciptakan-Nya ini. Allah SWT menyifati seluruh dunia sebagai kesenangan sesaat (QS An-Nisa:77), sesuatu yang sebentar, jika dinikmati adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan (QS Al-Hadid: 20).

Ibnu Iyad berujar, ''Seandainya dunia adalah emas yang akan sirna, dan akhirat hanyalah tembikar, tetapi akan kekal, maka kita wajib memilih yang kekal daripada yang fana.'' Selanjutnya dia berujar, ''Semua kebajikan disimpan dalam sebuah rumah dan kuncinya adalah zuhud di dunia, sedangkan seluruh kejelekan diletakkan di rumah lain dan kuncinya adalah cinta dunia.''

Bagaimana menyikapi dunia? Allah SWT memerintahkan dunia untuk menjadi pembantu bagi orang yang berorientasi kepada Allah semata. Sebaliknya, dunia adalah tuan bagi orang yang hanya berorientasi dunia belaka. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman, ''Wahai dunia, siapa saja yang menolong-Ku bantulah dia, dan siapa yang melayanimu, jadikanlah dia sebagai pembantumu!''

Dunia tidak diciptakan sebagai tujuan, tetapi sebagai tempat berjalan bagi manusia, atau sebagai perantara untuk sampai pada rida Allah SWT. Maka dari itu, dia ibarat pelayan, dan pelayan akan bersifat rendah, tidak mungkin dinilai secara agung dan mulia.

Makna kezuhudan kita pada dunia adalah dengan berpaling darinya. Zuhud memunyai surah (contoh) dan hakikat. Surah zuhud, antara lain mencukupkan dan membatasi diri dari aneka ragam makanan, pakaian, dan perhiasan. Inilah yang dulu dilakukan Rasulullah dan sebagian besar sahabat beliau. Namun, ini bukan inti sebenarnya. Zuhud tidak lebih sebagai cara untuk membersihkan hati dari sifat keduniawian.

Dengan demikian hakikat zuhud adalah kesamaan pandangan dan sikap antara penerimaan dan berpalingnya manusia terhadap dunia. Tidak berbeda baginya antara ada dan tidak adanya kebahagiaan dunia di hadapannya. Dengan kata lain, zahid (ahli zuhud) akan merasa sama saat memakai baju seharga seratus ribu atau yang hanya berharga seribu. Jika hati dan perasaannya sama tatkala memiliki harta sejuta pada hari ini dan esoknya memiliki seribu, atau tidak memiliki sama sekali, maka dia zahid yang sebenarnya.

Jadi seorang zahid tidak harus miskin. Sebaliknya orang yang tidak punya harta belum tentu zahid. Terkadang seseorang tergolong fakir, tetapi dalam pandangan Allah termasuk ahli dunia, karena otaknya hanya memikir dan mengharap dunia, menghasud orang lain yang dikarunia rezeki, membenci, dan mendengki. Terkadang seseorang memunyai harta banyak, tetapi itu tidak membuatnya lupa. Bahkan, ia menafkahkannya di jalan Allah, menyedekahkannya dalam kebaikan, atau menggunakannya untuk kepentingan agama.
READ MORE - Zuhud Pada Dunia
Share/Bookmark

Zikir Tetapi Lupa

''Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.'' (QS Al-Hasyr: 19).

Istilah zikrullah secara bahasa artinya adalah mengingat Allah. Sedangkan secara syar'i maksudnya adalah kesadaran Muslim sebagai makhluk Allah yang wajib untuk berpikir secara islami dan berbuat sesuai syariat Islam, baik dia sedang berdiri, duduk, berbaring, atau apapun. Apalagi jika sedang mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah: lailaha illallah!

Kesadaran ini menjadi ruh setiap perbuatan Muslim, dan membedakannya dengan orang kafir. Karena dengan kesadaran itu, seorang Muslim akan selalu terikat dengan syariat dan aturan Allah, sehingga dia isi kehidupan ini hanya dengan perbuatan yang mendatangkan pahala dan selalu berusaha meninggalkan perbuatan dosa. Tanpa kesadaran itu, seorang Muslim tidak ada bedanya dengan orang kafir.

Bisa jadi ketika seseorang menolong orang dengan hati baiknya dia mendapatkan nilai kemanusiaan. Dia melaksanakan ibadah atau meditasi, dengan hati beningnya dia mendapatkan nilai keruhanian. Dia bersikap jujur dan adil, dengan jiwa luhurnya dia memegang nilai moral. Namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari Allah bila apa yang dilakukan itu tidak dia kaitkan dengan perintah Allah serta motivasi iman dan takwa. Dia tidak mendapatkan pahala, apalagi keridlaan-Nya.

Istilah ingat atau zikir kepada Allah selama ini sering salah kaprah. Hanya dibatasi dengan perbuatan mengucapkan kalimat-kalimat tahlil, takbir, tahmid, tasbih, istighfar, dan lain lain. Itupun tidak jarang berupa pelafalan tanpa makna. Karenanya, seorang Muslim sering mengucapkan kalimat thoyyibah, bahkan malah menjadi agenda rutin akan tetapi perbuatannya banyak melanggar perintah Allah.

Orang itu senang berzikir untuk mengingat Allah, tetapi lupa dan enggan dengan aturan Allah. Selain perbuatan sunnah mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah, paling banter dia melakukan perbuatan wajib yang termasuk ibadah ritual belaka seperti: shalat, puasa Ramadhan, zakat fithrah, dan pergi haji. Di luar itu, dia seolah lupa bahwa Allah punya aturan yang sempurna dalam seluruh aspek kehidupan.

Walhasil, dia rajin berzikir dalam ibadah ritual saja, tetapi malas berzikir kepada Allah dalam dimensi-dimensi sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, keuangan, politik, pertahanan, dan keamanan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Nabi Muhammad dalam aspek non ritual itu bukan wahyu, tapi kreasi sosial kultural beliau.

Orang seperti ini pun banyak meninggalkan perbuatan wajib dan sunnah di bidang non ritual, bahkan dengan tanpa rasa bersalah dan berdosa menerjang larangan-larangan Allah. Ini semua akibat berzikir tetapi lupa.
READ MORE - Zikir Tetapi Lupa
Share/Bookmark

Wakil Pemerintah

Nabi Muhammad SAW mengangkat Ibnu Utabiyyah sebagai petugas pengumpul zakat Bani Sulaim. Saat kembali dia menghadap nabi, lalu berkata, ''Ini untuk engkau, sedangkan bagian ini adalah hadiah yang mereka berikan bagiku.'' Nabi menjawab, ''Kalau perkataanmu benar, mengapa engkau tidak duduk saja di rumah ayah dan ibumu sampai hadiah itu datang sendiri kepadamu?' '(HR Bukhari).

Kala lain kaum Yahudi Khaibar mencoba menyuap wakil Nabi dalam perhitungan hasil perkebunan kurma, sesuai perjanjian harus dibagi dua antara negara dan para Yahudi petani itu. Wakil pemerintah, Abdullah bin Rawwahah, dijanjikan emas dan perak oleh Yahudi asalkan mau mengurangi bagian pemerintah. Namun, dia tegas menolaknya (HR Imam Malik dan Abu Dawud).

Hikmahnya, pemberian bagi pejabat dalam tugas kenegaraan wajib ditolak, kecuali penghasilan resmi. Selain itu, setiap wakil pemerintah harus sadar bahwa mereka bertugas mewakili negara dan rakyat, sehingga wajib membela kepentingan itu, bukan kepentingan pribadi dan golongan lain.

Segala suap dan hadiah hanya untuk memanfaatkan posisinya. Mustahil, disuap kalau bukan pejabat. Penghasilan liar juga hanya akan menguntungkan si penyuap, sedangkan negara dan rakyat pasti dikorbankan.

Pada hadis lain, Nabi bersabda, ''Hadiah kepada penguasa adalah ghulul 'pengkhianatan'.'' (HR Ahmad dan Baihaqi). ''Meski sebatang jarum.'' (HR Abu Dawud), tegas Nabi terhadap keharaman pemberian selain penghasilan resmi.

Karena ajaran Islam tidak diterapkan, terjadilah penyalahgunaan wewenang, tugas, dan tanggung jawab, oleh wakil-wakil pemerintah di BUMN; lembaga keuangan yang menerima subsidi negara (dana rekapitalisasi); dan lembaga-lembaga internasional; baik bidang politik, keuangan, militer, hukum, maupun sosial budaya.

Para direksi dan komisaris BUMN atau bank rekapitalisasi, misalnya, berbuat seakan-akan BUMN dan bank itu miliknya sendiri. Ketika perusahaan untung, mereka enteng saja menyetujui pengeluaran yang berkedok kenaikan tunjangan dan bonus, termasuk bagi mereka.

Padahal, itu hak milik negara. Sebaliknya, kala rugi, orang-orang tercela itu tidak menolak pemaksaan halus untuk mencairkan dana APBN dengan membiarkan manipulasi keuangan terjadi. Seharusnya, berbagai skandal perusahaan yang negara memiliki saham di dalamnya yang diberitakan akhir-akhir ini menyadarkan kita bahwa bernegara tanpa didasari akidah dan syariah Islam hanya akan merugikan negara dan rakyat.
READ MORE - Wakil Pemerintah
Share/Bookmark

Ucapan yang Baik

Islam memerintahkan kita untuk selalu mengucapkan perkataan yang baik dan benar. Ucapan yang baik lahir dari iman, takwa, dan pengetahuan tentang etika berbicara dalam Islam. Ucapan yang baik didorong pula oleh keyakinan bahwa semua ucapan akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.

Allah berfirman, ''Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buah pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.'' (QS 14: 24-25).

Ada beberapa bimbingan Islam untuk selalu mengucapkan yang baik. Pertama, anjuran untuk banyak mengucapkan kalimat La Ilaha Illallah. Kalimat ini ringan mengucapkannya, tetapi berat timbangannya (ganjarannya) di sisi Allah. Mengucapkan kalimat ini akan memperkuat iman seseorang.

Kedua, anjuran berdoa kepada Allah. Doa yang diminta kepada Allah untuk kebaikan diri, istri, anak, keluarga, dan Muslim lain. Berdoa tidak hanya dilakukan sesudah shalat, tetapi juga ketika melakukan aktivitas yang baik. Firman-Nya, ''... Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku ....'' (QS 2: 186).

Ketiga, ketika mendapat musibah dianjurkan mengucapkan kalimat Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Ucapan ini mengingatkan apa pun musibah yang menimpa kita, semuanya berasal dari Allah. Firman-Nya, ''Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun'.'' (QS 2: 156).

Keempat, ketika mendapat nikmat dari Allah dianjurkan mengucapkan Alhamdalah. Ucapan ini untuk memuji Allah yang Mahakaya yang telah memberi nikmat kepada kita. Ini juga sekaligus pengakuan bahwa nikmat yang kita peroleh bukan karena kepintaran dan keahlian kita, tetapi karunia dari Allah.

Kelima, ketika berjanji melakukan suatu kegiatan dianjurkan untuk tidak mendahului ketentuan Allah. Sebab, manusia hanya bisa berencana, tetapi tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi. Untuk itu, ketika berjanji sebaiknya mengucapkan 'insya Allah'. Allah berfirman, ''Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi kecuali (dengan menyebut), insya Allah'.'' (QS 18: 23-24).

Keenam, apabila bertemu sesama Muslim, dianjurkan mengucapkan doa selamat, yaitu Assalamu 'alaikum .... Muslim yang mendengarnya dianjurkan menjawab dengan doa lebih baik atau minimal sama dengan doa orang untuknya. Allah berfirman, ''Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).'' (QS 4: 86). Wallahu a'lam.
READ MORE - Ucapan yang Baik
Share/Bookmark

Thalut dan Rakyatnya

Setelah Nabi Musa AS wafat, kaum Bani Israel berada dalam kondisi lemah. Mereka selalu merasa terancam oleh serangan musuh yang siap menyerang. Kekosongan kepemimpinan yang merupakan sumber dari berbagai marabahaya segera disadari oleh pemuka-pemuka Bani Israel. Mereka kemudian memohon kepada Allah SWT untuk dikaruniakan seorang pemimpin yang mampu melindungi mereka dari berbagai konspirasi musuh.

Allah SWT lalu mengutus Thalut sebagai pemimpin Bani Israel. Thalut tidaklah berasal dari golongan berharta. Hal ini sempat menimbulkan rasa pesimis dari beberapa pemuka Bani Israel. "Bagaimana mungkin ia akan menjadi pemimpin kami sementara ia tidak memiliki kelapangan harta?" kata mereka.

Rupanya anggapan bahwa seorang yang akan menjadi pemimpin mestilah memiliki modal dan dana yang besar untuk menyukseskan kepemimpinannya sudah ada sejak masa Bani Israel. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah SWT telah memilih Thalut sebagai pemimpin kalian dan membekalinya dengan ilmu dan tubuh yang kuat". Itulah sesunguhnya pertimbangan utama dalam memilih seorang pemimpin; ilmu dan tubuh yang kuat. Tentu bukan sebuah kebetulan ketika Allah SWT mendahulukan penyebutan ilmu sebelum menyebut tubuh yang kuat. Karena tak ada satu pun yang tidak bermakna dalam setiap rangkaian ayat-ayat Allah.

Bekal ilmu yang dimiliki oleh Thalut dibuktikannya ketika memimpin Bani Israel menghadapi Jalut beserta bala tentaranya. Thalut sangat menyadari bahwa modal utama dalam sebuah peperangan bukanlah jumlah yang banyak atau persenjataan yang canggih. Akan tetapi yang paling penting adalah kekokohan iman, mental, dan kesabaran prajurit-prajuritnya. Untuk mendapatkan prajurit-prajurit pilihan, Thalut melakukan seleksi yang cukup ketat. Setelah menempuh sebuah perjalanan yang cukup panjang menuju medan perang, di saat para prajuritnya didera rasa dahaga yang teramat sangat, Thalut memberikan sebuah ujian berat pada mereka: "Allah akan menguji kalian dengan sebuah sungai. Siapa yang minum dari air sungai itu maka ia tidak termasuk kelompokku dan siapa yang sanggup untuk tidak meminum air sungai itu berarti ia termasuk kelompokku."

Hasilnya? Hanya segelintir prajurit saja yang sanggup menahan nafsu minum mereka. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa dari 80.000 prajurit yang berangkat ke medan perang saat itu hanya lebih kurang 300 orang saja yang mampu bersabar dan lulus ujian. Ujian ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa prajurit yang mampu bersabar menahan nafsu dahaga mereka sudah tentu akan mampu bersabar dalam hal-hal yang lain. Begitu juga, prajurit yang bersedia taat pada pemimpin dalam ujian seperti ini tentu akan lebih taat pada hal-hal lainnya. Berkat seleksi yang berat ini, meski dengan jumlah yang jauh lebih sedikit, Thalut dengan izin Allah mampu mengalahkan Jalut. Untuk mewujudkan sebuah kepemimpinan yang sukses mestilah didukung oleh para bawahan yang bermental kuat, sabar dari godaan nafsu dan materi serta melalui sebuah seleksi yang cukup ketat. Alangkah baiknya bila hal ini juga dilakukan oleh pemimpin-pemimpin bangsa ini dalam merekrut para pembantu dan bawahan.
READ MORE - Thalut dan Rakyatnya
Share/Bookmark

Teladan Para Sahabat

Rasulullah SAW ibarat bulan purnama, sedangkan para sahabatnya laksana bintang-bintang. ''Ashhabi kan-nujum,'' kata Nabi. Karena, para sahabat adalah pantulan atau cerminan dari sosok Nabi, baik dalam pola pikir maupun tindakannya.

Suatu kali Nabi bersabda, ''Segala yang kami, para nabi, miliki tidak bisa diwariskan. Semuanya harus disedekahkan kepada kaum Muslimin.'' Oleh karena itulah, tidak ada cerita yang menyatakan bahwa Rasul pernah menahan hartanya untuk dibelanjakan di jalan Allah. Nabi tidak mewariskan apa-apa bagi keluarganya, bahkan ketika menjelang wafat beliau masih punya utang kepada seorang Yahudi (yang kemudian dilunasi oleh ahli waris beliau).

Lantas, bagaimana figur sahabat-sahabat Nabi berkenaan dengan prinsip ini? Tidak diragukan lagi, mereka sangat meneladani perilaku Nabi SAW sebegitu rupa. Misalnya Abu Bakar. Ketika Nabi menganjurkan para sahabatnya untuk bersedekah, Abu Bakar memberikan seluruh hartanya. Ketika Nabi bertanya, ''Apa yang akan engkau tinggalkan untuk anak-anakmu kelak?'' Abu Bakar menjawab, ''Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Dia pasti akan membalasku dengan berlipat ganda.''

Ketika Abu Bakar menjadi khalifah dan segala kemewahan dunia menghinakan diri di depannya, dia tidak silau. Meski sebagai khalifah, Abu Bakar tak bersikap sombong. Dia mendapat julukan ''bapak orang berbaju robek'' karena sehari-hari memakai baju yang penuh tambalan. Ketika Umar menjabat sebagai khalifah, Persia dan Romawi telah ditaklukkan oleh tentara Islam. Akan tetapi, bagaimana kehidupan Umar sehari-hari? Menurut riwayat, saban hari Khalifah Umar sarapan roti kering dan minyak biasa. Pakaian Umar dipenuhi tambalan dan sebagian besar terbuat dari kain kasar.

Khalifah Utsman tidak jauh berbeda dengan pendahulunya. Beliau tak pernah enggan mendidik jiwanya dan memaksanya dengan pekerjaan-pekerjaan mahaberat. Konon, sering Utsman memikul kayu kering dari kebunnya. Orang-orang pun bertanya, ''Ya, Khalifah, mengapa engkau sedemikian menyiksa diri?'' Utsman menjawab, ''Aku ingin menguji diri, apakah sanggup menanggung kesulitan hidup.''

Diceritakan pula, ketika menjadi khalifah, Ali bin Abi Thalib pernah membeli sehelai kain seharga empat dirham dan sepotong baju seharga lima dirham. Setelah dicoba, ternyata lengan bajunya terlalu panjang. Khalifah Ali pun segera pergi ke tukang jahit. Dia meminjam gunting, kemudian memotong lengan yang kepanjangan itu dengan tangannya sendiri.

Demikianlah para sahabat utama Rasulullah SAW. Kekuasaan tak melenakan mereka. Jabatan bukanlah sarana untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Menduduki jabatan publik, bagi mereka, bukanlah kesempatan untuk memperkaya diri. Jabatan adalah amanah rakyat, sehingga hal yang harus dikedepankan adalah mengabdi kepada rakyat; bukan sebaliknya: memikirkan diri sendiri. Naudzubillah.
READ MORE - Teladan Para Sahabat
Share/Bookmark

Teladan Keluarga Pejabat

Suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz kedatangan seorang tamu yang tidak lain adalah bibinya sendiri. Kedatangannya untuk meminta tambahan jatah dana dari Baitul Mal (kas negara). Mungkin sang bibi berpikir karena yang menjadi penguasa adalah kemenakannya sendiri, sehingga akan mudah baginya meminta tambahan dana dari kas negara. Ketika sang bibi masuk, Khalifah Umar sedang makan kacang (adas) dan bawang sebagaimana makanan rakyat jelata. Melihat sang bibi datang ia segera menghentikan makannya.

''Wahai Amirul Mukminin, aku ingin tambahan dana subsidi dari Baitul Mal,'' pinta sang bibi. ''Tunggu sebentar,'' kata Umar. Kemudian, Umar pun mengambil satu dirham uang perak dan membakarnya di atas api. Setelah tampak panas, ia membungkusnya dengan kain. ''Inilah uang tambahan yang bibi minta,'' kata sang khalifah sembari menyerahkan bungkusan tersebut ke tangan bibinya.

Begitu menggenggamnya, spontan sang bibi melemparkannya sambil menjerit kesakitan dan kepanasan. Umar berkata, ''Wahai bibi, kalau api dunia saja begitu panas dan menyakitkan, bagaimana dengan api akhirat kelak yang akan membakar aku dan bibi karena menyelewengkan harta negara?''

Umar adalah manusia biasa sebagaimana para pemimpin dunia pada umumnya. Ia juga memiliki rasa cinta terhadap istri, anak, dan kerabatnya. (Ali Imran: 14). Namun, ia tidak ingin salah dalam merealisasikan rasa cintanya. Baginya, mudah sekali melakukan apa saja atas nama kekuasaannya, termasuk menggunakan harta negara. Namun, itu tidak ia lakukan.

Beruntung, keluarga sang khalifah mempunyai pemahaman yang sama dengan bapaknya. Suatu malam, selepas Isya, Khalifah Umar menemui anak-anaknya. Melihat sang ayah datang, mereka segera memasukkan tangan ke mulut, dan segera pergi. Melihat itu, Umar merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada diri para anak-anaknya. ''Mengapa mereka menutupi mulutnya dan cepat-cepat menjauhiku,'' tanya Umar keheranan kepada pembantunya. ''Mereka tidak memiliki makanan selain makanan kebanyakan orang, yaitu kacang (adas) dan bawang. Mereka tidak ingin tuan mengetahui hal itu,'' jawab sang pembantu.

Mendengar itu Umar pun menangis, lalu ia berkata kepada anak-anaknya, ''Wahai anak-anakku, apa artinya kalian memakan bermacam-macam makanan yang enak dan lezat kalau toh nantinya dapat mengantarkan ayah kalian ini ke lembah api neraka?'' Para anaknya pun menangis terharu, merasakan betapa beratnya tanggung jawab ayah mereka sebagai penguasa.

Sikap yang dimiliki Umar dan keluarganya itu merupakan cermin keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah SAW. Mereka paham betul sabda Rasulullah SAW, ''Wahai manusia, siapa saja di antara kalian yang diangkat menjadi pegawai kami untuk melakukan pekerjaan tertentu, kemudian menipu kami tentang penghasilannya, maka (ketahuilah) sesungguhnya apa yang lebih dari penghasilannya adalah harta haram yang membuatnya tersiksa pada hari kiamat.'' (HR Abu Dawud). Wallahu a'lam.
READ MORE - Teladan Keluarga Pejabat
Share/Bookmark
free counters