Tuesday, June 29, 2010

Puasa dan Kepekaan Sosial

Ibadah puasa merupakan ibadah yang sangat banyak mengandung kebajikan. Di antaranya, yang sangat penting, adalah bahwa ibadah puasa dapat meningkatkan rasa kepekaan dan kepedulian kepada sesama. Itu sebabnya, Nabi Muhammad SAW menyebut bulan Ramadhan sebagai Syahr al-Muwasat, berarti 'Bulan Kepekaan Sosial'. (HR Ibn Khuzaimah).

Kepekaan itu timbul karena orang yang berpuasa pasti merasakan lapar dan dahaga seperti yang biasa dirasakan oleh orang-orang yang tidak mampu, yaitu fakir miskin dan kaum dhuafa. Jadi, ibadah puasa sesungguhnya memiliki fungsi penting, yaitu mengasah dan mempertajam rohani manusia, sehingga ia dapat melihat dan merasakan penderitaan orang lain.

Bukti mengenai kepekaan itu dapat dilihat dari perintah Nabi Muhammad SAW agar kaum Muslimin di bulan Ramadhan ini banyak memberi makan atau menyediakan buka bagi orang yang berpuasa. Sabda Rasulullah SAW, ''Barangsiapa memberikan makan atau buka kepada orang yang berpuasa, maka hal itu dapat menjadi tebusan atas dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari api neraka. Ia juga beroleh pahala seperti pahala orang yang puasa itu, tidak berkurang pahalanya barang sedikit pun.''

Mendengar pernyataan Rasulullah SAW di atas, para sahabat meminta penjelasan lebih lanjut dari beliau. Mereka berkata, ''Tidak semua orang dari kami memiliki kemampuan untuk memberikan makan kepada orang yang puasa?''

Lalu, jawab Rasulullah SAW, ''Allah SWT telah menyediakan pahala besar untuk kalian. Apakah kalian tidak sanggup menyediakan buka walau hanya sebutir kurma, segelas air putih, atau secangkir susu?'' Kemudian beliau pun menegaskan kepada para sahabat bahwa kepedulian kepada orang yang berpuasa itu dapat membuat seseorang meraih rahmat dan ampunan dari Allah SWT. (HR Baihaqi dan Ibn Hibban).

Nabi Muhammad SAW sendiri, seperti tersebut dalam hadis Bukhari, dikatakan sebagai orang yang paling peka terhadap kebaikan dan kepekaannya itu mencapai puncaknya di bulan suci Ramadhan ini, bulan di mana Malaikat Jibril selalu datang menemui Rasulullah setiap malam. Dikatakan, kepekaan dan kebaikan Nabi itu ibarat angin kencang (ka al-rih al-mursalah).

Kebaikan Rasulullah, menurut Ibn Hajar al-Asqalani, diserupakan dengan angin karena ada aspek kesamaan antara keduanya. Dikatakan, angin itu adalah angin surga yang diutus oleh Allah untuk menurunkan air hujan, sehingga membasahi dan menghidupkan bumi yang kering dan mati. Kebaikan Nabi sama dengan air hujan itu juga: menyejukkan dan memberikan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.

Kepekaan sosial ini menjadi problem tersendiri bagi kita sebagai umat dan bangsa. Tanpa kepekaan sosial, maka akan timbul kerawanan-kerawanan sosial. Kesenjangan sosial (gap) dan perbedaan (disparitas) antara si kaya dan si miskin, akan semakin besar. Dalam situasi demikian, maka penyakit lama akan segera timbul, yaitu kecemburuan sosial yang setiap saat dapat menyulut permusuhan dan kerusuhan. Rasa permusuhan ini, tentu dapat mengganggu ketenteraman kita sebagai umat dan bangsa. Untuk itu, kita perlu belajar mengasah dan mempertajam kepekaan sosial kita melalui ibadah puasa. Ibadah puasa dapat membuat kita sehat, tidak hanya sehat secara pribadi, tetapi juga sehat secara sosial. Wallahu a'lam bis-shawab.


republika

READ MORE - Puasa dan Kepekaan Sosial
Share/Bookmark

Pesan Moral Ibadah Kurban

Hari ini --sebagian esok hari-- umat Islam merayakan hari Iduladha atau disebut juga hari raya kurban. Hari Raya kurban berkaitan erat dengan sejarah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS.

Surat Al-Shaffat: 102, mengisahkan Ibrahim mendapat wahyu dari Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail, sebagai kurban. Ibrahim dan Ismail, selaku hamba taat, tidak bimbang sedikitpun untuk melaksanakan perintah dari Tuhan. Pada detik-detik terakhir menjelang peristiwa kurban itu, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba.

Di balik kisah kurban Nabi Ibrahim tersebut, tersirat pesan moral yang amat dalam tentang nilai kemanusiaan dalam perspektif agama. Tuhan Maha- Pencipta yang maha-berkuasa menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya itu, tidak mau menjadikan manusia sebagai objek kurban, meski waktu itu Ismail rela diakhiri hidupnya.

Pesan moral dalam kisah kurban Nabi Ibrahim dan Ismail itu sangat paradoks dengan realita yang kita saksikan dalam dunia modern kini. Erosi kemanusiaan telah menggiring sebagian umat manusia pada kehidupan individualisme, materialisme, dan vandalisme yang membabi buta, sehingga jiwa, darah, dan kehormatan, sesama manusia pun seolah tidak berharga lagi.

Dalam contoh yang ekstrem, kini kita lihat begitu mudahnya orang melenyapkan nyawa orang lain karena sebab yang hanya sepele. Mereka membakar hidup-hidup, memusnahkan tempat kediaman, dan menganiaya orang lain, sehingga korban berjatuhan tiada terbilang lagi jumlahnya.

Padahal orang berbuat salah, menurut agama dan hukum, tidak boleh diperlakukan semena-mena dengan tindakan main hakim sendiri apa pun alasannya. Di manakah perasaan kemanusiaan mereka yang tega menghabisi sesamanya?

Nabi Muhammad saw berkata, ''Hancurnya bumi ini beserta isinya merupakan perkara kecil, bagi Allah, dibanding tertumpahnya setetes darah manusia tanpa jalan hak.'' Dalam hadis yang lain Nabi menjelaskan, ''Tuntutan perkara dalam hubungan antarmakhluk yang pertama dibuka di akhirat nanti ialah yang menyangkut darah manusia.''

Sejarah mengabadikan betapa tingginya penghargaan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan atau hak asasi manusia dalam dustur negara Islam tempo doeloe, seperti tecermin dalam riwayat Khalifah Umar bin Khatab, bahwa beliau pernah memarahi putra Gubernur Mesir, Amar bin Ash, ketika mendapat laporan bahwa anak gubernur memukul, bukan membunuh, teman bermainnya. Anak rakyat biasa. "Mengapa engkau memperlakukan anak manusia seperti budak? Padahal ibunya melahirkan mereka sebagai manusia merdeka".

Semoga hari raya kurban tahun ini meninggalkan bekas dan hikmah bagi kita sekalian, terutama untuk mempertebal rasa kemanusiaan dan keterikatan kita terhadap perintah dan larangan Allah.


republika

READ MORE - Pesan Moral Ibadah Kurban
Share/Bookmark

Perilaku Islami

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Thabrani, Rasulullah SAW bersabda, ''Iman itu adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota tubuh.'' Hadis ini menjelaskan kepada kita bahwa hakikat keimanan dan keislaman seseorang bukanlah hanya ditentukan oleh pengakuannya, akan tetapi oleh kesadaran hati yang mendalam, meyakini keberadaan Allah SWT dengan segala sifat dan ajaran-Nya yang sempurna, untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam wujud perilaku yang Islami.

Dalam hadis lain riwayat Imam Thabrani pula, Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya Allah tidak akan melihat rupa kalian. Bukan pula pada keturunan kalian dan bukan pula pada harta kalian, akan tetapi Allah memperhatikan pada hati dan amal kalian.''

Ajaran Islam yang begitu indah seperti untuk selalu jujur, bersih hati, pikiran, dan jasmani, menebarkan keselamatan dan kedamaian pada orang lain, menjauhkan diri dari perilaku korup, perilaku hasad, rakus, dan tamak, harus diterjemahkan dalam kenyataan kehidupan keseharian oleh kaum Muslimin. Jika hal ini secara konsisten dilakukan, maka akan dirasakan dampak kenikmatannya oleh seluruh anggota masyarakat dan bangsa dan bukan hanya oleh orang Islam, karena memang Islam adalah rahmatan lil-alamin, seperti dinyatakan dalam QS 21: 107.

Islam akan dirasakan sebagai sistem kehidupan Ilahi yang menawarkan kelezatan samawi dan kepuasan rohani serta kesejahteraan materi. Islam akan dirasakan pula sebagai ajaran yang pas dan cocok untuk segala situasi dan kondisi serta untuk setiap kelompok umat manusia. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam QS 30: 30.

Akan tetapi, manakala kaum Muslimin tidak melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan kesehariannya dan terdapat jurang pemisah yang menganga antara idealita (yang seharusnya) dan realita (yang terjadi di tengah masyarakat), maka kerahmatan ajaran Islam tidak akan pernah dirasakan. Orang yang mengaku Islam tetapi perilakunya korup, rakus, dan tamak terhadap kekuasaan duniawi dan kepuasan jasmani semata-mata, sesungguhnya akan merusak citra Islam, meskipun Islam sebagai agama dari Allah SWT tidak akan menurun derajatnya hanya karena perilaku yang buruk dari umatnya. Islam akan dijaga dan dipelihara oleh Allah SWT sebagaimana tertera dalam QS 15: 9.

Karena itu, jika ada orang Islam, apalagi pemimpinnya, yang menyatakan bahwa asas Islam tidak cocok untuk saat ini, ibarat baju yang terlalu sempit, maka sesungguhnya orang itu telah melecehkan ajaran Islam yang agung, mulia, dan sempurna. Seharusnya orang tersebut mau berpikir bahwa kondisi tersebut akibat dari perilakunya yang tidak sesuai nilai-nilai Islam. Semoga Allah selalu menjaga kita dari sikap keragu-raguan terhadap Islam. Wallahu A'lam bi ash-Shawab.


republika

READ MORE - Perilaku Islami
Share/Bookmark

Pemimpin yang Bersih dan Peduli

Pengalaman pemilu-pemilu yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa rakyat selalu hanya dijadikan objek untuk mendulang suara dan kekuasaan. Rakyat, sebelum pemilu, diberikan janji-janji dan iming-iming tertentu agar memilih parpol tertentu. Namun, setelah pemilu dilaksanakan rakyat kembali dilupakan, dan bahkan tidak dipedulikan. Paradigma ini sudah saatnya harus diubah.

Rakyat harus menyadari bahwa mereka mempunyai kekuatan. Di tangan merekalah kepemimpinan nasional ditentukan. Karena itu, rakyat harus memilih pemimpin yang tepat. Rasulullah bersabda, ''Sesungguhnya aku tidaklah memberikan pekerjaan kepada seseorang, sehingga aku menemui syarat-syaratnya.'' (HR Dailami).

Sedikitnya ada dua syarat, yang dapat diukur oleh rakyat, agar seseorang pantas untuk dipilih sebagai pemimpin mendatang. Pertama, bersih. Bersih dalam konteks ini mengandung dua pengertian. Pertama, bersih jiwanya, yakni ia seorang yang beriman. Keimanannya tersebut terpancar dari perilaku dan sikapnya dalam kehidupan sehari-hari, baik kepada keluarga ataupun masyarakat secara luas.

Kedua, bersih berarti ia seorang yang tidak pernah terlibat dan terindikasikan melakukan kejahatan, baik tindakan kriminal maupun kejahatan moral. Selain bersih diri dan keluarganya, kelompoknya pun harus bersih. Tegasnya, ia dan keluarga serta kelompoknya merupakan orang-orang yang memiliki kredibilitas, bermoral, dan berani untuk menegakkan kebenaran.

Bersih pun merupakan salah satu syarat agar rahmat, pertolongan, dan kemenangan dari Allah datang. Perhatikan firman-Nya, ''Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri.'' (QS 87: 14). Rasulullah pun menegaskan, ''Islam itu bersih, maka bersihkanlah dirimu. Sesungguhnya, tidak akan masuk surga kecuali orang yang bersih.'' (HR Dailami).

Kedua, peduli. Saat ini, kita membutuhkan pemimpin yang peduli kepada rakyat yang dipimpinnya dan memiliki hati nurani. Kepedulian ini dapat diukur dari kiprahnya sejak dini. Kita harus mewaspadai jika ada kelompok yang menjelang pemilu berubah menjadi peduli. Sebab, kepedulian yang ikhlas tidak tumbuh hanya pada saat-saat menjelang pemilu, melainkan sejak awal telah ditunjukkan dengan komitmennya membela rakyat kecil.

Kepedulian yang ikhlas merupakan kepedulian yang timbul dari hati nurani dan rasa tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Ia menjadi ruh dalam setiap tindakan, kegiatan, dan kebijakan yang dilakukannya.

Kini, di saat wacana untuk membentuk 'koalisi bersih' digulirkan, sudah sepatutnya seluruh rakyat mendukung dan mewujudkannya. Karena, sungguh, bangsa ini tidak akan pernah bangkit dari keterpurukan jika tetap dipimpin oleh orang-orang yang tidak amanah dan korup (kotor). Mari kita wujudkan pemerintah dan lembaga legislatif yang bersih dan peduli kepada rakyat yang memilihnya. Wallahu a'lam bishawab.


republika

READ MORE - Pemimpin yang Bersih dan Peduli
Share/Bookmark

Pemimpin dan Rakyatnya

Aktivitas utama penguasa adalah mengurus rakyat. Segala urusan rakyat itu menjadi tanggung jawab utama seorang penguasa. Untuk mengurusnya maka penguasa memberlakukan aturan-aturan agar dilaksanakan oleh rakyatnya. Lantas bagaimana pengaturan tersebut? "Hai orang-orang yang beriman, taatilah oleh kalian Allah, rasul, dan ulil amri (penguasa) di antara kalian...." Ayat ke-59 dari surat an-Nisa di atas menjelaskan bahwa kaum muslimin harus menaati pemimpin atau penguasanya.

Namun ketaatan tersebut hanya berlaku dalam konteks ketaatan kepada Allah SWT, bukan dalam konteks kemaksiatan kepada-Nya. Rasulullah SAW menjelaskan : "Tak ada ketaatan kepada orang yang tidak menaati Allah 'azza wa jalla." (HR Ahmad). "Tak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah." (HR Muslim).

Ketertiban dan keamanan dalam masyarakat dapat terjadi apabila adanya hubungan yang harmonis antara penguasa dengan rakyatnya, berupa saling menasihati dan saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Di antara keduanya pun harus memiliki kesadaran, bahwa pihak yang satu adalah seorang pemimpin, dan yang lain adalah pihak yang dipimpin.

Contoh wujud kesadaran untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara pemimpin dan rakyatnya tampak pada pidato yang disampaikan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Inilah pidato yang pertama kali beliau sampaikan ketika menjadi Khalifah, pengganti Rasulullah SAW: "Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diangkat untuk menjadi pemimpin kalian, sementara aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Karena itu jika aku berbuat baik, maka dukunglah. Dan jika aku berbuat buruk, maka cegahlah. Taatilah aku selama aku menaati Allah dan rasul-Nya. Jika aku bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya, maka kalian tidak perlu menaatiku."

Sedangkan ketika menjadi khalifah, Umar bin Khaththab RA menyampaikan: "Wahai manusia, siapa saja di antara kalian yang melihatku menyimpang, maka luruskanlah aku."

Demikianlah betapa pentingnya sosok pemimpin yang memahami hubungan antara dirinya dengan rakyatnya. Seorang pemimpin adalah yang disukai rakyatnya dan bahkan mendoakannya, begitu pula sebaliknya ketika pemimpin itu menyukai mereka dan juga mendoakan rakyatnya. Dari Auf bin Malik al-Asyja'i, Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik pemimpin kalian ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka." (HR Muslim).


republika

READ MORE - Pemimpin dan Rakyatnya
Share/Bookmark

Pemimpin dan Kualitas Rakyat

Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, ''Apabila Allah menghendaki baik terhadap suatu kaum, menjadikannya seorang pemimpin yang bijak dan menjadikan harta benda (ekonomi) ada pada orang-orang yang dermawan. Dan jika Allah menghendaki buruk terhadap suatu kaum, menjadikan bagi mereka seorang pemimpin yang jahil (bodoh) dan menjadikan harta benda (urusan ekonomi) ada pada orang-orang yang bakhil.''

Dua hal yang saling terkait, satu dengan yang lain tidak bisa dipisahkan, yaitu pemimpin dan yang dipimpin. Munculnya seorang pemimpin adalah proses seleksi alami dari dinamika yang terjadi di masyarakat suatu bangsa, jika masyarakat suatu bangsa itu baik dan berkualitas, maka akan muncul pula para pemimpin yang lebih baik dan berkualitas. Sebab, dia telah memenangkan seleksi dari pertarungan orang-orang yang baik.

Sebaliknya, jika masyarakat suatu bangsa itu rendah mutu dan kualitasnya, maka yang akan muncul adalah hasil seleksi pertarungan orang-orang yang buruk, para pemimpin yang dilahirkannya pun buruk pula, sesuai dengan kriteria dan parameter yang ditetapkan oleh orang-orang yang rendah kualitasnya.

Kita semua menghendaki munculnya seorang pemimpin yang bijak, adil, dan jujur, tetapi kita sendiri bersikap apriori terhadap hal-hal yang menyebabkan rusaknya masyarakat suatu bangsa. Bangsa ini sudah lama terpuruk dalam krisis multidimensional, termasuk krisis moral dan akhlak. Pelanggaran hukum, budaya korupsi, monopoli, serta pornografi dan pornoaksi, yang sudah sangat mencemaskan kita semua, adalah buah dari runtuhnya moral dan akhlak bangsa ini.

Cermin budaya suatu bangsa bisa dilihat dari cara mengekspresikan kehendak dan kecenderungannya, baik melalui media cetak maupun media elektronik. Tayangan televisi yang marak dengan berbagai tontonan yang seolah-olah berlomba menyajikan tayangan-tayangan mengumbar aurat, kekerasan, dan mistik, serta magik. Di sisi lain ketika persoalan datang muncullah tuyul kecil si ucil atau dewi peri yang cantik atau jin-jin lain yang dapat memberikan pertolongan! Gambaran suatu bangsa yang sudah putus asa, tidak mau berpikir, dan bekerja keras untuk mengatasi krisis yang berkepanjangan!

Maka, bagaimana kita bisa berharap akan muncul pemimpin berkualitas dari masyarakat yang hobi bercumbu dengan khayalan tuyul dan jin? Perilaku-perilaku aneh di jalanan, di kantor, dan di mana-mana, muncul menggejala tanpa kendali. Masihkah kita bisa berharap menyongsong hari esok yang cerah? Jawabannya tergantung bagaimana kita bersikap.

Firman Allah di dalam Alquran, ''Sekiranya penduduk suatu negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami buka pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (kebenaran Allah), maka Kami timpakan kepada mereka azab disebabkan oleh perilaku mereka sendiri.'' (Surat Al-A'raf: 96). Wallahu a'lam.


republika

READ MORE - Pemimpin dan Kualitas Rakyat
Share/Bookmark

Musuh Kita

Setiap orang punya musuh. Dikehendaki atau tidak, musuh selalu ada. Apakah musuh itu bersembunyi dalam selimut, yang secara licik bisa membunuh kita, atau musuh yang terang-terangan berdiri di depan kita dan siap menyerang kita. Terhadap jenis musuh yang mengancam keselamatan seperti itu, secara naluriah biasanya kita akan bersikap waspada. Kalau memang punya keberanian, dengan berbagai cara, kita akan melawan. Kalau tidak, akan lebih selamat kalau kita menghindarinya.

Bagi orang tertentu, musuh tidak selalu dipandang sebagai ancaman. Musuh justru bermanfaat untuk mengukuhkan eksistensi kita. Terhadap musuh jenis ini, kita biasa menyebutnya sebagai lawan. Untuk menguji apakah diri kita unggul, kuat, atau loyo, kita memerlukan lawan. Bahkan, kalau tidak ada lawan, kita ciptakan lawan sendiri. Sebuah kompetisi untuk menumbuhkan watak sportif seperti dalam olahraga, misalnya, cara ini justru dipandang sehat. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Agar kita tidak mudah lengah, kita memerlukan musuh atau lawan. Baik musuh dari luar maupun dari dalam diri kita. Musuh dari luar, sehebat apa pun, insya Allah bisa kita taklukkan.

Musuh yang paling sulit kita tundukkan justru berada di dalam diri kita sendiri. Dalam bukunya yang terkenal, Zikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf (1996), Dr Mir Valiuddin mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, ''Musuhmu yang paling jahat ialah nafsu yang ada pada dirimu.'' Beliau memerintahkan para pengikutnya, ''Bunuhlah nafsu dalam dirimu dengan pedang pengekangan dan kezuhudan.'' Celakanya, jangankan membunuh atau setidaknya membendung nafsu, kita malah lebih sering memanjakannya. Mengapa? Kita tahu, musuh yang amat terkutuk ini sangat pandai memberi kenikmatan-kenikmatan pada kita.

Akibatnya, bukan nafsu itu yang kita taklukkan, tapi justru kita yang ditundukkan olehnya. Banyak sekali literatur tasawuf yang menjelaskan sifat jahat nafsu. Mahmud ibn 'Ali al-Kasyani, penulis kitab Mishbah al-Hayat, misalnya, menerangkan nafsu yang memperbudak manusia dengan kesenangan dan kenikmatan. Jika nafsu ini tidak dilawan, ia akan menyeret manusia untuk menuhankannya seperti disebut dalam Alquran, ''Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?'' (QS 45: 23).

Sifat lain adalah suka munafik, bermegah-megah, dan riya. Dari segi apa pun, sungguh merugi jika kita diperkuda nafsu ini: sangat boros (sifat ini juga dikutuk Allah), baik energi, waktu, dan terutama biaya. Tengoklah diri dan lingkungan dalam rumah kita sendiri, misalnya, berapa biaya yang kita habiskan demi kenikmatan, kemunafikan, dan kemegahan? Masih banyak lagi sifat jahat nafsu, yang semuanya amat menyesatkan. Mengikuti nafsu, mengikuti langkah-langkah setan sekaligus bersekutu dengannya. Nasihat Rasulullah: hunus pedang pengekangan dari sarungnya dan babat nafsu sampai kita tidak lagi merasa nikmat memperturutkannya. Firman Allah SWT, ''Jangan kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu musuh yang nyata.'' (QS 2: 208). Wallahu a'lam.


republika

READ MORE - Musuh Kita
Share/Bookmark

Muslihat Setan

Seorang tabib yang dikenal alim, suatu hari, didatangi seorang pasien perempuan muda dalam keadaan sakit parah. Tabib itu biasanya menolak mengobati pasien perempuan, tapi melihat penderitaan pasien perempuan muda itu, hati tabib merasa iba. Tak sampai hati ia menolaknya.

Dengan hati-hati dan telaten, dia obati pasien itu. Sungguh tragis, kejadian berikutnya adalah bencana. Sang tabib jatuh hati pada pasien yang ternyata berparas cantik itu, dan terjadilah skandal yang semestinya tidak terjadi. Perempuan itu hamil, dan akhirnya dibunuh oleh sang tabib.

Nukilan kisah yang dituturkan Peter J Awn dalam buku yang menawan, Tragedi Setan, Iblis dalam Psikologi Sufi (Bentang Budaya, 2000), bersumber dari kitab yang sangat terkenal, Ihya' Ulum al-Din, karya Al-Ghazali. Tak disangka, perempuan itu sebenarnya telah dirasuki iblis. Penyakitnya juga muslihat setan, yang sengaja direkayasa untuk menjerumuskan sang tabib.

Luar biasa, memang, tipu-daya iblis dan setan. Mereka tak pernah kehabisan jurus, amat licik dan canggih, untuk memperdaya manusia. Singkat kata, muslihat mereka jauh di luar kemampuan manusia untuk mengalahkannya.

Mereka juga tak tak mengenal waktu dan kesempatan, baik di waktu jaga maupun tidur. Baik lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak, manusia biasa, berpangkat, alim, ulama, bahkan sampai para nabi pun, mereka goda.

Ingat kisah Nabi Adam dan Hawa yang diusir dari surga gara-gara termakan bujukan setan seperti difirmankan Allah dalam Alquran. Juga Nabi Musa, Isa, Yahya, bahkan Rasulullah Muhammad SAW pun pernah digoda setan. Dalam buku yang mengutip banyak ayat suci Alquran, hadis, dan berbagai kitab tasawuf, diceritakan bahwa iblis sering menggoda manusia justru ketika sedang shalat. Ketika seseorang sedang khusyuk shalat, tiba-tiba terbetik keinginan untuk bersedekah. Kebetulan ia baru saja menerima banyak rezeki.

Sepanjang shalat, pikirannya ngelayap ke orangtuanya, famili, dan orang-orang dekat, yang akan dia beri sedekah. Saat itulah iblis bersorak; ia berhasil mengalihkan konsentrasi orang itu dari Allah. Hanya mulutnya yang komat-kamit, hati dan pikirannya terbang ke mana-mana. Hal-hal seperti inilah yang juga banyak kita alami ketika sedang shalat.

Setan paling suka membakar orang marah, dengki, tamak, sombong, dan--apalagi--nafsu rendah. Sumua itu adalah sifat-sifat setan, syaitan, atau iblis. Kita tentu tahu, semua itu adalah biang malapetaka dan kehancuran dunia. Menuruti nafsu setan, pasti akan sesat. Tapi, sesat kemudian apalah gunanya.

Dalam surat Al-Qashash: 15-16, difirmankan bahwa Musa menyesal dan mohon ampun kepada Allah setelah memukul musuhnya hingga tewas. Musa berkata, ''Ini perbuatan setan, sesungguhnya setan itu musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).''

Di situlah keutamaan dzikir: mengingat Allah setiap saat. Allah SWT juga memberi kita bacaan penangkal setan: ''Au'dzubillahi min al-syaithoni al-rojimi'' (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).


republika

READ MORE - Muslihat Setan
Share/Bookmark

Monday, June 7, 2010

Meraih Keselamatan

Rasulullah SAW bersabda, ''Sembahlah Tuhanmu, beri makanlah orang yang perlu diberi makan, dan tebarkanlah salam, niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat.'' (HR Tirmidzi). 

Hadis di atas menunjukkan bahwa kunci meraih keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat kelak, memiliki hubungan yang baik dengan Allah (hablun minallah) dan dengan sesama (hablun minannas). Pendek kata, kunci meraih keselamatan tersebut adalah kita harus memiliki kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.

Hal ini sebagaimana Allah firmankan, ''Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.'' (QS 22: 41).

Dalam konteks kesalehan pribadi, sebagaimana dijelaskan pada hadis di atas, kita harus memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan rasul-Nya. Kita harus memurnikan penghambaan kepada Allah dengan hanya menyembah dan memohon pertolongan kepada Allah, sebagaimana yang sering diucapkan: ''Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.'' (QS 1: 5).

Kemurnian penghambaan ini tidak hanya dikaitkan dengan masalah ibadah fardu, tetapi juga harus diaplikasikan dalam setiap aspek kehidupan. Allah SWT berfirman, ''Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri'.'' (QS 6: 162-163).

Rasulullah SAW menjelaskan dalam sebuah hadis qudsi pahala yang akan diterima bagi orang-orang yang selalu berharap dan meminta kepada Allah. Rasulullah bersabda, ''Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan ampunkan apa-apa dosa yang telah telanjur dari padamu dan tidak Aku pedulikan lagi ...'' (HR Tirmidzi).

Sedangkan kesalehan sosial merupakan buah dari keimanan dan ketakwaan yang benar kepada Allah. Wujud dari kesalehan sosial ini, sebagaimana dijelaskan hadis di atas, adalah adanya kepekaan dan kepedulian terhadap sesama, khususnya dengan sesama Muslim. Bahkan, Rasulullah mengaitkan kepekaan dan kepedulian terhadap sesama Muslim dengan kadar keimanan seseorang.

Rasulullah menegaskan dalam sabdanya, ''Tidak sempurna iman seseorang di antaramu sehingga dia mencintai saudaranya (sesama Muslim) sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Salah satu satu wujud dari kesalehan sosial adalah memberikan makan kepada orang-orang yang membutuhkan (kelaparan) dan menebarkan salam. Menebarkan salam mengandung pengertian menebarkan keselamatan, perdamaian, dan kasih sayang kepada setiap manusia. Tegasnya, menebarkan salam merupakan salah satu pelaksanaan dari Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil'alamin). Wallahu a'lam.  


republika


READ MORE - Meraih Keselamatan
Share/Bookmark

Menjawab Kritik

Ketika kaum Muslim baru saja kembali dari suatu peperangan yang melelahkan, sebagai kepala negara, Khalifah Umar bin Khatab menyampaikan pidato kenegaraan sebagai laporan kemenangan gemilang yang baru saja diraih oleh pasukannya. Namun, ketika selesai mengucapkan kalimah hamdalah dan salawat, diiringi dengan kata-kata, ''Wahai manusia, dengarkan dan dan taatilah!'' itu tiba-tiba seorang di antara yang hadir langsung berdiri dan menginterupsi, ''Hari ini kami tidak akan mendengar dan menaatimu wahai Ibn Khattab!'' kata orang itu. 

Khalifah tertegun dan keheranan, sambil berkata, ''Ada apa?'' Laki-laki itu melanjutkan, ''Anda telah membagi-bagi ganimah [rampasan] kepada kami. Kami masing-masing mendapatkan jatah sehelai kain. Kami lihat Anda hari ini memakai baju baru. Dari mana Anda peroleh jatah kain lainnya?''

Khalifah Umar kemudian menyuruh anaknya menjawab. ''Wahai Abdullah bin Umar, bangun dan jawablah pertanyaannya.'' Abdullah bin Umar kemudian berdiri dan berkata, ''Ya. Aku lihat baju ayahku tidak cukup dengan kain yang dibagikan, lalu bagianku aku berikan kepadanya agar cukup untuk sebuah jubah, karena jubahnya yang ada telalu banyak tambalan.''

Mendengar itu, laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya lalu berkata, ''Sekarang kami akan mendengar dan menaatimu wahai Khalifah. Silakan lanjutkan pidatomu!''

Untuk ukuran zaman sekarang, para pendukung seorang pemimpin pasti tersinggung dan bereaksi keras bila orang berulah sebagaimana laki-laki itu. Apalagi, orang itu bersikap taksopan --dalam anggapan umum saat ini-- di hadapan seorang kepala negara dan berani melontarkan tuduhan atau dugaan yang tidak benar di depan publik. Tindakan itu bahkan bisa dianggap merongrong dan merusak nama baik sang pemimpin. Oleh karena itu, tak jarang para pendukung tokoh itu melakukan segala cara untuk membungkam suara-suara seperti itu demi menyelamatkan pemimpin yang didukungnya.

Bandingkan dengan sikap Khalifah Umar yang tidak tersinggung sedikitpun itu. Beliau menyadari bahwa rakyat mempunyai hak untuk menyampaikan kritik sesuai dengan janjinya ketika dinobatkan sebagai Khalifah. ''Siapa yang melihat aku tak beres, silakan tegur dan luruskan aku.'' Saat itu seorang laki-laki bangkit dari duduknya dan berkata, ''Ya. Kami akan menegurmu dengan mata pedang kami.'' Umar tidak kaget, terlebih lagi karena ia merasa tidak melakukan sesuatu apa pun seperti yang dituduhkan.

Beliau dengan serius mendengar suara mereka, kemudian segera memberikan jawaban dengan bukti-bukti nyata yang meyakinkan umat. Namun, bukan sebaliknya, Ia malah mengecam dan mengancam. Wallahu a'lam.  


republika


READ MORE - Menjawab Kritik
Share/Bookmark

Menjadi Anshar

Warga Madinah di masa Nabi Muhammad saw adalah sebaik-baik penduduk negeri. Mereka tidak cuma memberi sedekah kepada kaum Muhajirin yang fakir, tidak bermodal bisnis, dan kelaparan. Bahkan, membagi sebagian rumah, tanah, dan perabotan mereka kepada saudara seiman itu. Malah, bila Muhajirin mau, yang lebih baik bagi mereka. 

Benarlah firman-Nya, ''Dan mereka [kaum Anshar] mengutamakan [kaum Muhajirin] dari diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan [apa yang mereka berikan]'' (QS Al-Hasyr: 9). Karenanya, kaum Anshar telah diridai Allah dan telah disediakan surga (QS At-Taubah: 100). Tiada kemenangan yang lebih besar daripada selamat dari neraka, masuk surga, dan diridhai-Nya.

Sesungguhnya, sejak Futuh(pembebasan) Mekkah, maka hijrah seperti yang dilakukan kaum Muhajirin telah berakhir. Sabda Beliau, ''tidak ada lagi hijrah setelah futuh.'' (HR Bukhari-Muslim). Apalagi, dakwah telah tersebar dan umat Islam telah ada dimana-mana. Maka, agar kemuliaan yang diterima kaum Anshar juga kita peroleh, kita perlu berupaya menjadi Anshar diin Allah.

Dasar pemikiran yang selama ini terkungkung ideologi jahiliyah dan sistem sekuler harus diubah. Standar penilaian bahwa sesuatu itu baik atau buruk sepenuhnya merujuk Allah, meski mayoritas warga dunia lainnya menilai sebaliknya. Interaksi antarwarga didasari keimanan, yang memancarkan persaudaraan, sikap saling menyayangi dan menolong bagaikan mencintai diri sendiri. Sungguhpun Nabi mengakui perbedaan latar belakang suku, bangsa, asal daerah, dan lain-lain, tetapi itu tidak dijadikan sekat pembatas, apalagi basis loyalitas.

Islam-lah yang melenyapkan perselisihan, kedengkian, bahkan peperangan antara Bani Aus dan Khazraj. Sesuatu yang kini justru terjadi di Aceh, jazirah Arab, dan lain-lain. Mereka yang tadinya miskin, termasuk kaum Anshar, setelah Nabi datang membawa Islam dan bersedianya mereka berkorban demi kejayaan kalimah Allah, menjadi kaya dan mampu menyantuni pendatang baru. Kaum Yahudi, yang awalnya menguasai pasar jazirah Arab dengan praktik oligopoli, rente, dan monopoli, tersingkirkan, sehingga konsumen mendapat keadilan. Kejayaan dunia dan akhirat inilah yang harus diraih Muslim Indonesia dengan menjadi Anshar Abad XXI dalam penegakan Islam dan penyebaran rahmatan lil alamiin.  


republika


READ MORE - Menjadi Anshar
Share/Bookmark

Mengurangi Takaran

 Latar belakang diturunkan Surah Al-Mutaffifin menurut Ibnu Abbas RA berkenaan dengan perilaku ekonomi penduduk Yatsrib, kota yang kemudian diganti namanya dengan Madinah Munawarah, di awal kedatangan Rasulullah SAW. Mereka terkenal paling lihai dalam mempermainkan sukatan, takaran, dan timbangan. Namun, setelah turunnya surah tersebut, kata Ibnu Abbas, penduduk Madinah itu terkenal paling jujur dalam menimbang dan menakar. 

Mutafifin artinya orang-orang yang berbuat curang dalam menakar dan menimbang. Menurut ahli bahasa, mutafifin adalah orang-orang yang suka mengurangi hak orang lain. Mereka diancam dengan suatu kecelaaan besar dan neraka wail, lembah di neraka jahanam yang sangat dahsyat siksanya.

Senada dengan Imam Qurthubi dalam Tafsirnya Al-Jami Li Ahkam Alquran, Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Qur'an juga mengatakan bahwa kecurangan dalam ayat ini hendaknya diberi pengertian yang lebih luas, tidak hanya terbatas dalam perilaku ekonomi atau jual beli.

Dalam hal lain yang menyangkut kehidupan keluarga, bermasyarakat, dan bernegara, seseorang atau sekelompok orang yang meminta keistimewaan, penghargaan atau pelayanan, sedangkan dari pihaknya sendiri tidak mau memberikan hal yang sama, maka yang demikian itu lebih buruk dan lebih serakah. Itu berarti sebuah ketidakadilan ganda.

Pada masa orde baru kita menyaksikan gedung-gedung SD Inpres yang dibangun rapuh oleh karena dana yang turun dari atas terus menetes dalam perjalanan menuju lokasi pembangunan. Kini kita menyaksikan kembali praktik-praktik kecurangan dan ketidakadilan yang lebih dahsyat lagi karena dilakukan secara terang-terangan oleh oknum-oknum di kalangan eksekutif maupun legislatif dengan tanpa malu menuntut fasilitas dan pelayanan yang tidak sebanding dengan kinerja yang diberikan, di tengah kebingunan rakyat oleh melambungnya harga berbagai bahan kebutuhan pokok.

Program penjualan beras murah (raskin) seperti diberitakan oleh media masa, sungguh menyedihkan karena lagi-lagi hak rakyat miskin dikurangi. Bangsa ini seperti kehilangan hati nurani dan kepedulian terhadap rakyat kecil yang sudah dibebani dengan kenaikan BBM dan TDL. Kini raskin pun disikat.

Rehabilitasi jalan-jalan raya yang menghabiskan miliaran rupiah itu juga tidak beres. Lubang-lubang kembali menganga menyambut datangnya musim hujan. Tentu ini akibat dari berkurangnya takaran dan kualitas jalan. Kita berharap agar manusia mutafifin tidak dibiarkan terus mengibarkan bendera kecelakaan bagi rakyat kecil di negeri ini.  


republika


READ MORE - Mengurangi Takaran
Share/Bookmark

Saturday, June 5, 2010

Mengharapkan yang Terbaik

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari-Muslim dari Anas, Rasulullah SAW bersabda, ''Tidak boleh seseorang mengharap-harapkan kematian karena kesulitan hidup yang dihadapinya. Dan jika tidak tahan menghadapi kesulitan itu, maka hendaknya ia berkata, 'Ya Allah, hidupkan aku jika hidup itu lebih baik bagiku, dan matikan aku jika kematian itu lebih baik bagiku'.''

Sebagaimana telah sama-sama kita sadari bahwa kematian itu adalah sesuatu yang bersifat pasti dan tetap, tidak bisa dimajukan dan tidak pula bisa dimundurkan, walau hanya sesaat. Karena itu orang-orang yang beriman tidak boleh takut menghadapi kematian atau sebaliknya tidak boleh terlalu mengharapkannya, apalagi hanya karena menghadapi kesulitan dan beban hidup. Allah SWT berfirman dalam QS Al A'raaf 34, ''Tiap-tiap umat ada ajalnya. Apabila datang ajal mereka, maka tidak dapat mengundurkannya walaupun sesaat, dan tidak dapat pula memajukannya.''

Banyak yang berkeyakinan bahwa kesulitan hidup yang berat harus diakhiri dengan kematian, karena kematian dianggap akan mampu mengakhiri penderitaan itu. Padahal, kematian bisa jadi merupakan awal dari kesulitan yang sesungguhnya, karena setiap manusia harus mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan yang telah dilakukannya di dunia ini.

Allah SWT berfirman dalam QS Azzalzalah 7-8, ''Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zharrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zharrah pun niscaya dia akan melihat balasannya pula.''

Kesulitan dan penderitaan sesungguhnya merupakan pakaian dari kehidupan yang akan selalu melekat pada setiap manusia, sama halnya dengan kemudahan dan kesenangan. Jika seseorang sabar di dalam menghadapi penderitaannya, tetap tegar dan istiqomah di dalam melakukan ikhtiar dan amal saleh, selalu mengembalikan persoalan pada Allah SWT dengan banyak bersujud dan berdoa, maka akhir dari penderitaan dan kesulitan itu adalah kebaikan dan kemudahan. Allah SWT berfirman dalam QS Alam Nasyrah 5-6, ''Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.''

Dalam hadis di atas Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa berpikir positif, optimistik, dan memohon yang terbaik dari setiap persoalan yang dihadapi dan dari kehidupan serta kematian. Hidup yang penuh dengan kebaikan dan kematian yang diakhiri dengan kebaikan itulah yang disebut dengan khusnul khotimah, dan itu pula yang harus menjadi sikap dan pandangan hidup setiap orang yang beriman. Putus asa dan frustrasi tidak ada dalam kamus kehidupannya. Allah SWT berfirman dalam QS Yusuf 87, ''... dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang yang kafir.'' Wallahu a'lam bis-shawab.


republika

READ MORE - Mengharapkan yang Terbaik
Share/Bookmark

Menggunakan Akal

Berasal dari bahasa Arab, 'aqala, akal dalam bahasa Indonesia berarti pikir atau berpikir. Akal adalah pemberian Allah SWT kepada setiap manusia sebagai kekuatan yang memiliki kemampuan menakjubkan. Dengan dukungan pancaindera, akal dapat menimbang antara yang baik dan buruk. Dapat mengenal mana yang membahagiakan dan yang mencelakakan. Bahkan, dengan mengerahkan kemampuan akal, manusia telah berhasil menemukan dan mewujudkan kemajuan di bidang teknologi yang sangat mengagumkan.

Islam adalah agama yang memberikan penghargaan tinggi terhadap akal. Kata Rasulullah SAW, ''Agama ialah penggunaan akal, tiada arti agama bagi orang yang tidak mempergunakan akalnya.'' Alquran menyebut kata akal lebih dari lima puluh kali, semua menunjukkan perintah bagi manusia agar mau mempergunakan akalnya. Firman-Nya, ''Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar akan bertemu dengan Tuhannya.''(Ar Rum: 8).

Manusia berakal berpandangan jauh. Bertindak sempurna dan tidak gegabah. Ia yakin kebenaran janji Allah. Sebab itu amal karyanya disesuaikan dengan janji tersebut. Dengan menggunakan akal, manusia mampu membuat kreativitas, pembaruan, dan perubahan-perubahan yang fantastik dan menakjubkan di dalam kehidupannya.

Dengan menggunakan akal, kelak manusia akan menempati tempat yang terhormat dan mulia. Manusia yang lalai akan jatuh ke tempat yang tercela dan hina. Rasulullah SAW bersabda, ''Orang yang berakal ialah yang dapat menundukkan nafsunya untuk persediaan sesudah mati. Dan, orang yang lemah ialah yang menuruti kehendak nafsunya semata-mata, sedangkan ia mengharapkan kepada Allah berbagai-bagai pengharapan.'' (HR Tarmizi).

Hasil pertimbangan akal manusia yang sempurna dapat diikuti oleh manusia lain. Dipergunakan sebagai petunjuk dan pedoman. Buah pikirannya dimintakan dalam sesuatu persoalan hidup dan masalah yang sedang dihadapi. Hidup ini penuh dengan problema. Masalah demi masalah menanti penyelesaian. Dalam akal sempurna banyak petunjuk untuk mendapatkan neraca keadilan.

Harkat dan kemuliaan manusia dengan sarana akal sebagai karunia-Nya, akan tetap terjaga dengan baik dan utuh selama dia tawajjuh, tafakkur, tawadhu, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, ''Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kebesaran Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang orang yang lalai.''(Al A'raaf: 179).

Semoga kita bisa mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan perintah-Nya. Wallahu a'lam.


republika

READ MORE - Menggunakan Akal
Share/Bookmark

Mendidik dengan Kasih Sayang

Dikisahkan, pada suatu hari, beberapa Arab desa datang kepada Rasulullah SAW. Mereka bertanya kepada para sahabat, ''Apakah kamu pernah memeluk anak-anak kecil kamu?'' Para sahabat menjawab, ''Ya.'' Orang-orang kampung itu berkata, ''Akan tetapi, demi Allah, kami belum pernah memeluknya.'' Rasulullah SAW lalu bersabda, ''Aku tidak boleh berbuat apa-apa sekiranya Allah mencabut rahmat dari kamu.'' (HR Muslim).

Hadis di atas merupakan peringatan dari Rasulullah bahwa betapa pentingnya kasih sayang kepada anak-anak. Kasih sayang kepada anak-anak tidak hanya merupakan wujud dari rasa cinta, tetapi yang lebih penting adalah kasih sayang merupakan bagian dari peranan orang tua dalam mendidik mereka. Kasih sayang merupakan fondasi terbentuknya hubungan yang erat antara orang tua dan anak-anak.

Dalam kaitan ini, Deborah Stipek--seorang pakar motivasi dari Stanford University--mengatakan hubungan yang erat antara orang tua dan anak sedikitnya mempunyai tiga komponen utama.

Pertama, penerimaan. Dalam konteks ini orang tua harus menerima keberadaan anak apa adanya, tanpa syarat apa pun. Penerimaan total orang tua terhadap anak-anak memberikan rasa percaya diri yang tinggi kepada anak-anak dan mempercepat anak dalam proses pembelajaran dan perkembangan dirinya.Sebaliknya, seorang anak yang tidak diterima secara penuh oleh orang tuanya menyebabkan mereka lambat dalam perkembangannya. Bahkan, penerimaan bersyarat tersebut menyebabkan anak memiliki sifat-sifat yang negatif, seperti pembangkang dan pemarah.

Kedua, adanya hubungan/ikatan batin. Hubungan/ikatan batin yang kuat antara orang tua dan anak-anak menciptakan rasa aman secara emosi, tenteram, dan mereka bahagia menjadi dirinya. Hubungan/ikatan batin ini akan terbentuk jika orang tua memberikan kehangatan dan terlibat dalam kehidupan anak-anaknya.

Selain itu, hubungan/ikatan batin yang kuat terbentuk pula dengan adanya rasa saling percaya, keterbukaan dan saling menghargai. Orang tua yang menanamkan rasa percaya pada anak menyebabkan mereka lebih berani mencoba, meskipun mereka memiliki keraguan sebelumnya. Adanya keterbukaan artinya ada komunikasi dua arah yang menyebabkan orang tua mudah mengikuti perkembangan anak, di dalam maupun di luar rumah. Sedangkan anak yang dihargai, maka mereka akan mengapresiasikan hal yang sama terhadap orang tuanya.

Ketiga, dukungan. Orang tua harus menghargai dan menghormati anak sebagai pribadi yang unik, sehingga mengembangkan segala potensinya untuk menjadi diri sendiri dan mandiri. Dan, bukan dipaksakan untuk menjadi seperti orang tuanya. Dalam kaitan ini, John Bowlby--seorang ahli jiwa anak--menegaskan seorang anak akan efektif jika minimal ada satu orang yang ''berdiri di belakang mereka''. Maksudnya, selalu ada orang yang siap memberikan dukungan apapun kondisinya.

Semoga kita dapat membangun dan memberikan kasih sayang kepada anak-anak kita, sehingga keluarga kita termasuk golongan orang-orang yang pengasih dan penyayang. Dan, semoga anak-anak kita menjadi anak yang membanggakan orang tua, bangsa, dan agamanya. Wallahu a'lam bishawab.


republika

READ MORE - Mendidik dengan Kasih Sayang
Share/Bookmark

Mencintai karena Allah

Membicarakan cinta tak dapat dilepaskan dengan motif dan tujuan pelakunya. Sesuai arti katanya, cinta adalah perasaan hati dalam menyenangi sesuatu. Dalam bahasa Arab, cinta sering disebut dengan kata hubb. Mencintai sesuatu berarti sama dengan menyenanginya.

Cinta adalah salah satu sifat fitri (alami) yang memang Allah SWT anugerahkan kepada manusia. Dengan cinta, manusia satu dan lainnya dapat membina hubungan dengan harmonis. Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya Allah SWT memiliki 100 rahmat kasih sayang. Sebanyak 99 Ia simpan untuk hamba-hamba-Nya nanti di akhirat, sedangkan satunya Ia turunkan kepada umat manusia. Dengan hanya satu rahmat inilah, manusia satu dengan yang lainnya saling mencintai.'' (HR Bukhari-Muslim).

Dengan demikian, cinta dan kasih sayang yang dimiliki manusia hakikatnya adalah bentuk anugerah tertinggi yang Allah SWT berikan. Itu artinya, cinta sesungguhnya harus dilandasi dengan keyakinan bahwa cinta itu adalah dari Allah SWT dan harus dimanfaatkan sepositif mungkin oleh manusia, semata-mata karena Allah. Dengan kata lain, mencintai manusia lain sebetulnya harus dilandasi sikap bahwa cintanya itu adalah karena Allah, sehingga cinta yang ditimbulkan akan selalu berada dalam jalur yang sudah Allah SWT gariskan, bukan cinta buta yang hanya memperturutkan hawa nafsu rendah. Mencintai seseorang karena Allah SWT akan mengantarkan seseorang pada satu level, di mana Allah SWT melimpahkan cinta abadi-Nya yang tak terkira.

Rasulullah SAW pernah bercerita kepada Abu Hurairah, ''Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang berniat mengunjungi temannya dalam sebuah kampung. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan malaikat yang sengaja Allah turunkan untuk menanyakan tujuannya. Laki-laki itu menjawab, ia ingin mengunjungi salah satu temannya di sebuah kampung. Malaikat bertanya lagi tentang alasan kunjungan itu, apakah karena temannya itu memiliki satu jasa berharga yang harus dibalas atau tidak. Dengan tegas, laki-laki itu menjawab ia tidak memiliki alasan selain bahwa kunjungannya itu adalah karena cintanya kepada temannya, cinta yang dilandasi semata-mata karena Allah SWT. Malaikat itu akhirnya memberi tahu kepada laki-laki itu bahwa ia adalah utusan Allah untuk menyampaikan kabar gembira bahwa laki-laki itu dijamin akan dicintai Allah selamanya, dengan sebab cintanya pada temannya itu.'' (HR Muslim).

Cinta sesama manusia hanya karena Allah, bukan karena alasan lain, itulah cikal bakal cinta abadi yang Allah SWT siapkan di akhirat kelak. Cinta model ini pulalah yang akan menjadi naungannya nanti di hari kiamat. Satu hari yang tidak ada naungan lagi selain naungan yang Allah berikan kepada manusia. Rasulullah SAW bersabda, ''Pada hari kiamat nanti Allah SWT akan berseru, 'Mana orang-orang yang saling mencintai hanya karena Aku? Pada hari kiamat yang tidak ada naungan ini, Aku akan memberikan naungan-Ku pada mereka semua'.'' (HR Muslim). Dengan cinta yang dilandasi keyakinan seperti inilah, umat manusia akan dapat mewujudkan kedamaian dan keharmonisan di antara sesama. Wallahu a'lam.


republika

READ MORE - Mencintai karena Allah
Share/Bookmark

Menahan Marah

Suatu hari Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Shidiq. Ketika sedang bercengkerama dengan Rasulullah, tiba- tiba datang seorang Arab badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata- kata kotor keluar keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini Rasulullah tersenyum.

Kemudian orang Arab badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.

Semakin marahlah orang Arab badui ini. Untuk ketiga kalinya ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab badui itu dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, ''Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahan ku!''

Rasulullah menjawab, ''Sewaktu ada seorang Arab badui datang lalu mencelamu, dan engkau tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak Malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu di hadapan Allah. Begitu pun, yang kedua kali ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para Malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali yang ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh Malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah Iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.''

Demikian Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk bersabar menahan amarah, dengan tidak membalas keburukan dengan hal-hal yang buruk pula. Allah berfirman, ''Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.''


republika

READ MORE - Menahan Marah
Share/Bookmark

Menahan Diri

Syekh Yusuf Qardlawi dalam bukunya Al 'Ibadah fi Al Islam menyatakan implementasi dan aplikasi ibadah sangat beraneka ragam, meskipun memiliki makna dan tujuan yang sama dan satu, yaitu melakukan pengabdian untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT.

Ada yang menekankan pada ucapan, seperti berzikir, bertasbih, berdoa, dan membaca Alquran. Ada yang menekankan pada gerakan tubuh, seperti shalat dan ibadah haji. Ada yang menekankan pada mengeluarkan sebagian dari harta yang dimiliki, seperti zakat, sedekah, dan wakaf. Namun, ada pula yang tidak menekankan pada hal-hal tersebut, tetapi pada al imsak, yang berarti menahan dan mengendalikan diri, yaitu pada ibadah shaum.

Shaum atau puasa adalah menahan diri, tidak mengeluarkan sesuatu ucapan dan atau perbuatan yang akan merusaknya, seperti berdusta, memfitnah, dan mengadu domba antara yang satu dan lainnya. Dalam sebuah hadis riwayat Jamaaah dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ''Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan-ucapan kotor, maka Allah sama sekali tidak akan memberikan pahala bagi orang tersebut walaupun ia berpuasa tidak makan dan tidak pula minum.''

Dalam hadis lain riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW juga menyatakan, ''Puasa itu bukanlah hanya meninggalkan makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya meninggalkan ucapan kotor dan perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Bahkan, jika seseorang tiba-tiba datang dan mencelamu, maka katakanlah kepadanya, 'Saya sedang berpuasa'.''

Karena itu, inti dan substansi ibadah puasa adalah latihan pengendalian diri secara sadar, sengaja, dan terstruktur. Pengendalian diri ketika mencintai dan membenci sesuatu atau seseorang, supaya tidak berlebih-lebihan, agar dalam melakukan penilaian terhadapnya tidak bersikap subjektif. Tetapi, tetap mengedepankan logika sehat dan berpikir yang objektif.

Bahkan, dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW mengingatkan, ''Cintailah orang yang Anda cintai, sederhana saja. Sebab, siapa tahu kelak orang tersebut menjadi orang yang Anda benci. Dan, bencilah seseorang secara sederhana saja. Sebab, siapa tahu kelak orang tersebut menjadi orang yang Anda cintai.''

Orang yang mampu mengendalikan diri adalah orang yang akan mampu bersabar ketika mendapatkan berbagai macam ujian dan cobaan, dan mampu bersyukur ketika mendapatkan berbagai macam anugerah dan kenikmatan. Sabar dan syukur menjadi pakaian dan perhiasan utama dalam hidupnya. Orang tersebut jika mendapatkan jabatan dan kedudukan, yang oleh masyarakat dianggap tinggi dan memiliki prestasi, tidak akan lupa diri dengan kekuasaannya, lalu memanfaatkannya untuk kepentingan diri, keluarga, dan kelompoknya. Tetapi, akan menganggapnya sebagai sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat.

Semoga Ramadhan 1425 H ini akan dijadikan peluang dan kesempatan oleh masyarakat yang berpuasa secara kolektif dan bersama-sama, untuk melatih diri bagi penguatan kemampuan menahan dan mengendalikan diri. Wallahu a'lam. (KH Didin Hafidhuddin)


republika

READ MORE - Menahan Diri
Share/Bookmark

Membela Kaum Lemah

Bagi orang beriman, rahmat, inayah, dan pertolongan Allah SWT merupakan suatu keniscayaan dan kebutuhan yang bersifat mutlak/absolut. Kerja keras yang kita lakukan tidak mungkin akan menghasilkan sesuatu atau dapat memecahkan sesuatu persoalan secara optimal tanpa pertolongan-Nya.

Salah satu prinsip yang membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak, adalah terletak pada harapan dan optimisme itu. Allah SWT berfirman, ''Janganlah kalian merasa lemah dalam menghadapi mereka, jika kalian merasa sakit [dalam berjuang], sesungguhnya mereka pun merasakan hal yang sama [dalam aktivitasnya], tetapi kalian mengharapkan sesuatu dari Allah apa yang mereka tidak harapkan. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.'' (QS An-Nisa': 104)

Yang perlu diyakini bahwa rahmat dan pertolongan Allah tersebut hanyalah akan diberikan kepada orang yang beriman yang salah satu syaratnya memiliki komitmen yang kuat untuk membela orang-orang yang lemah, seperti orang fakir miskin, termasuk membela orang yang difitnah dan dizalimi.

Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah saw bersabda, ''Sesungguhnya kalian hanyalah akan ditolong dan diberikan rezeki oleh Allah SWT manakala kalian membela orang-orang yang lemah.'' Membela orang fakir miskin mempunyai arti mengeluarkan sebagian dari anugerah Allah SWT, seperti harta dan ilmu, untuk mengangkat harkat dan derajat kehidupan mereka. Berusaha seoptimal mungkin dalam barisan dan kelembagaan yang rapi dan teratur, mengangkat mereka dari kondisi mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat).

Membela orang yang dizalimi dan difitnah mempunyai arti ikut membersihkan nama baik mereka dari berbagai fitnah dan isu yang tidak benar dan menyesatkan yang disampaikan oleh orang dan kelompok yang tidak bertanggungjawab, semata-mata karena kebencian kepada mereka. Kelompok orang yang menzalimi pun harus dibela pula, seperti dinyatakan Rasulullah saw, ''Tolonglah saudaramu yang zalim maupun yang dizalimi.''

Menolong orang yang zalim artinya berusaha seoptimal mungkin menghentikan mereka dari perbuatan zalim. Karena itu, jika kita ingin mendapatkan inayah dan pertolongan Allah SWT, komitmen keberpihakan dan membela orang-orang yang lemah dan dizalimi harus terus-menerus ditingkatkan, apalagi jika yang dizalimi itu sesama kaum muslimin yang belum tentu melakukan kesalahan, seperti yang dituduhkan. Wallah a'lam bi ash-shawab.


republika

READ MORE - Membela Kaum Lemah
Share/Bookmark

Membela Hak

Rasulullah saw bersabda, "Dan siapa saja yang terbunuh karena membela hartanya maka dia mati syahid." (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar).

Islam adalah ajaran yang mengajarkan kemuliaan dan kehormatan agar dimiliki dan dipertahankan oleh setiap pemeluknya. Di dalam salah satu ayat Alquran, Allah SWT menyatakan bahwa kemuliaan (al-izzah) itu adalah milik Allah, milik Rasul-Nya, dan milik orang-orang mukmin.

Rasulullah di saat haji wada' (perpisahan) menyatakan, "Wahai manusia, sesungguhnya darah-darah kalian dan harta-harta kalian merupakan kemuliaan bagi kalian (yang tidak boleh dilanggar), sebagaimana kemuliaan hari kalian ini, di bulan dan di negeri kalian ini." (HR Muslim dari Jabir).

Oleh karena itu, tatkala kota Madinah dikepung oleh pasukan kafir Quraisy dan sekutu-sekutunya dalam Perang Ahzab dan ada usulan untuk menyerahkan sebagian hasil kurma Madinah kepada pasukan Ahzab sebagai kompensasi agar mereka tidak mengepung kota itu, Saad bin Muadz, salah seorang pemimpin kaum Anshar berkata, "Wahai Rasulullah, ketika kami dan kaum itu sama-sama masih menyekutukan Allah, menyembah berhala, tidak menyembah Allah dan mengenal-Nya, mereka saja tidak berani makan kurma darinya (kebun Madinah), kecuali sebagai jamuan (untuk tamu) atau (dengan cara) membelinya;

Apakah ketika kami telah dimuliakan oleh Islam, ditunjukkan pada jalannya, dan dimuliakan dengan (kehadiran) engkau dan Islam ini, lalu kami harus memberikan harta kami kepada mereka? Demi Allah, kami tidak membutuhkan ini. Demi Allah, kami tidak akan memberikan kepada mereka selain pedang, sehingga Allahlah yang akan memutuskan (siapakah yang menang) di antara kami dan mereka." (HR Ibn Hisyam dari Ibn Syihab az- Zuhri).

Sikap mental ksatria nan perwira seperti inilah yang kini dibutuhkan oleh umat Islam, dan para pemimpin yang kini menguasai negeri-negeri Islam. Sungguh kita sedih, tatkala salah satu negeri Islam dihardik dan diancam sedemikian rupa oleh pemimpin kafir Amerika dan sekutunya, hampir tak ada satu pun pemimpin negeri Islam yang bersikap tegas, membela kehormatan dan harta kaum Muslimin.

Sebaliknya, reaksi justru datang dari berbagai negeri kafir seperti Jerman, Prancis, Belgia, dan Rusia. Seolah umat ini telah lupa ajaran syariat agama yang diyakininya, bahwa rakyat Irak adalah salah satu bagian dari tubuh dan diri mereka, dan kehormatan Irak adalah sebagian dari kehormatan mereka, dan harta minyak Irak adalah sebagian dari harta mereka. Benarlah kata Khalifah Abu Bakar Shiddiq, "Suatu kaum yang meninggalkan jihad, Allah akan meliputi mereka dengan kehinaan!" Astaghfirullahal 'azhiim!


republika

READ MORE - Membela Hak
Share/Bookmark

Friday, June 4, 2010

Memahami Alam

Pembunuh itu kebingungan bukan main menghadapi jasad yang terbujur tidak bergerak itu. Perasaan takut dan sesal bercampur aduk dalam dadanya. Linglung pikirannya tanpa tahu berbuat apa, sampai dilihatnya dua ekor burung gagak datang dan bertarung di hadapannya, hingga mati salah satunya.

Lalu burung gagak yang masih hidup itu menggali tanah untuk menguburkan bangkai gagak yang dikalahkannya. Menyaksikan peristiwa itu, tercetuslah perkataan pemuda itu, ''Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?'' (QS Al-Maidah: 31).

Begitulah, Allah mengajari sang pelopor tindakan pembunuhan di muka bumi ini, Qabil bin Adam, cara menangani mayat Habil, saudaranya, yaitu dengan penguburan di dalam bumi. Pelajaran yang didapatkan dari burung gagak itu membuka tabir kegelapan yang menyelimuti pikiran Qabil, hingga teranglah baginya untuk melakukan perbuatan yang tetap dilakukan manusia hingga kini.

Selain hewan, tumbuhan juga mengajarkan banyak hal pada manusia. Negara kita Indonesia, memiliki lebih dari 130 ribu spesies tumbuhan yang tumbuh subur. Hebatnya, sifat dan karakteristiknya begitu beragam, dari yang resistan terhadap suhu tinggi, sampai yang hanya dapat hidup pada kelembaban tinggi.

Dari mereka, kita mendapatkan makanan berupa buah-buahan dan sayur atau biji-bijian. Kita memanfaatkan kayunya sebagai tempat tinggal, seratnya sebagai bahan penutup aurat, zat-zatnya sebagai obat, oksigen yang dihasilkannya, untuk kebutuhan respirasi, akarnya sebagai penampung air bagi kebutuhan primer.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang ber-tafakur (QS An-Nahl: 11) dan bagi kaum yang mengambil pelajaran (QS An-Nahl:13) dan terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memahami, ulil albab (QS Az-Zumar:21).

Penggunaan kata-kata seperti tafakur, ta'aqul, dan tafaquh dalam ayat Alquran menunjukkan bahwa manusia harus menggunakan akalnya dalam memahami alam. Tafakur (perenungan) berarti memikirkan informasi yang ada dan memindahkannya kepada kesadaran yang bersih.

Jika tafakur alam ini betul-betul kita lakukan, mustahil kita akan membabi buta merusak alam yang nyata-nyata akibat buruknya menimpa kita saat ini. Banjir dan tanah longsor silih berganti dengan kekeringan, kebakaran, dan kelaparan. Semua itu terjadi karena kita mengabaikan tafakur. Wajar jika Rasulullah bersabda, ''Orang buta itu bukanlah yang buta matanya, melainkan buta penglihatan batinnya''. Wallahu a'lam.


republika

READ MORE - Memahami Alam
Share/Bookmark

Matematika Wahyu

Umar bin Khatab menyatakan menginfakkan setengah kekayaannya ketika Rasulullah menanyainya. Umar tidak khawatir kekayaannya berkurang akibat banyak dikeluarkan di jalan Allah SWT. Ini tentu berbeda dengan orang sekarang yang hanya berpikir sebatas akal semata. Rasulullah bersabda, ''Tiadaklah harta itu berkurang karena sedekah'' (HR Muslim). Dalam sabda lainnya, ''Infakkanlah harta kekayaanmu niscaya kamu akan diberi gantinya'' (HR Bukhari dan Muslim).

Bagaimana logikanya? Kalau dilihat dari kacamata manusiawi sulit dipahami. Bagaimana mungkin menginfakkan harta, tetapi tidak mengurangi harta yang dimiliki, bahkan akan bertambah? Hanya orang-orang yang beriman bisa memahami karena rezeki sepenuhnya di tangan Allah SWT. Bukankah Allah Maha-pemberi rezeki? Tidak ada yang susah bagi Allah, Yang Mahagagah.

''Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap butir itu seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, lagi Maha-mengetahui'' (QS Al- Baqarah: 261).

Inilah matematika wahyu, satu berbanding tujuh ratus! Keuntungan 700 persen. Subhanallah. Perdagangan duniawi mana yang memberikan keuntungan sebesar itu? Tidak ada. Belum lagi Allah menjanjikan pahala besar. Ini benar-benar transaksi yang tidak pernah rugi.

Sebagai catatan, Allah, Pencipta manusia, memberitahukan bahwa balasan seperti itu tidak diperuntukkan bagi harta yang digunakan untuk menghalang-halangi tegaknya Islam. Allah SWT berfirman,''Sesungguhnya orang-orang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi jalan Allah. Mereka akan menginfakkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Pada neraka jahanamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan.'' (Al Anfal: 36). Sebaliknya, harta yang dinfakkan itu haruslah fisabilillah, seperti untuk menegakkan Islam, membantu menggelindingkan roda dakwah, melawan kafir imperialis, membantu fakir-miskin, dan menyemarakkan syiar Islam.

Patut kiranya kita renungkan firman Allah, ''Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang merugi. Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata, 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkanku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang saleh'.'' (QS Al-Munafiqun: 9-10).


republika

READ MORE - Matematika Wahyu
Share/Bookmark

Makna Sedekah

Rasulullah SAW pernah menegaskan perlunya setiap orang memberi sedekah setiap hari. ''Tiap-tiap jiwa keturunan Adam, tanpa kecuali, harus bersedekah, setiap hari, di mana matahari terbit di dalamnya.'' Mendengar hadis itu, seorang sahabat yang tak punya apa-apa untuk disedekahkan bertanya, ''Bagi orang semacam kami ini, bagaimana bisa bersedekah?"

Rasulullah menjelaskan, ''Sesungguhnya pintu kebajikan itu banyak sekali. Mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dengan khidmat dan khusuk adalah sedekah. Mengajak orang kepada yang baik dan melarang dari yang munkar adalah sedekah. Menyingkirkan sebuah batu dari jalan untuk memudahkan orang lewat adalah sedekah. Menuntun orang buta menyeberang jalan adalah sedekah. Memberi petunjuk kepada orang yang bertanya kepadamu adalah sedekah. Memapah orang yang tak berdaya dan mengharapkan bantuan dengan kekuatan dua betismu serta mendukung orang yang lemah dengan kekuatan dua lenganmu adalah sedekah. Dan senyummu bila berhadapan dengan saudaramu adalah sedekah.'' (HR Bukhari-Muslim).

Dengan kata-kata yang sederhana dan praktis Rasulullah SAW menjelaskan pengertian sedekah tidak hanya terbatas dalam bentuk materi. Sedekah mengandung makna yang lebih tinggi dan lebih luas daripada sekadar pemberian kepada orang lain yang bersifat materi.

Tidak selamanya sedekah harus berupa benda atau uang. Sedekah memiliki makna yang luas: setiap orang, dalam kondisi apa pun, dapat melakukannya. Islam meluruskan persepsi yang keliru; seolah anggota masyarakat sudah ditakdirkan terdiri dari tingkatan, yaitu 'golongan pemberi', yang memiliki kelebihan dari segi materi dan tak perlu menerima apa-apa karena sudah mampu. Lalu 'golongan penerima', yang tak bisa memberi karena tidak berpunya. Islam membawa pandangan baru bahwa proses memberi dan menerima, sesungguhnya melibatkan semua anggota masyarakat, kaya ataupun miskin, masing-masing bisa berbuat menurut kemampuannya.

Itulah hikmah anjuran bersedekah dalam Islam. Sedekah adalah sumber kebajikan yang menjalin hubungan kemanusiaan dengan empati, kasih sayang, dan persaudaraan. Memberi adalah sumber kebahagiaan, dan seorang Muslim merasa bahagia jika dapat membahagiakan orang lain dengan apa yang ada pada dirinya. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, ''Siapakah manusia yang paling baik?'', Rasulullah hanya menjawab, ''Orang yang sanggup memberi manfaat kepada sesamanya!''

Selanjutnya Rasulullah ditanya, ''Amal apa yang paling utama?'' Rasulullah menjawab, ''Memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman.'' (HR Thabrani).

Seorang Muslim seharusnya menjadi 'pembuka kebajikan' di mana pun berada. Rasulullah bersabda, ''Sesungguhnya kebajikan itu bagai khazanah (tempat penyimpanan) yang mempunyai kunci, maka bahagialah orang yang dijadikan Allah kunci pembuka kebajikan, penutup kejahatan. Dan, celakalah orang yang dijadikan Allah kunci pembuka kejahatan, penutup kebajikan.'' (HR Ibnu Majah).


republika

READ MORE - Makna Sedekah
Share/Bookmark

Kisah Segelas Susu

Suatu hari, Khalifah Abu Bakar al-Shidiq kembali dari pasar. Di rumah, beliau melihat segelas susu murni di atas meja. Karena rasa haus akibat aktivitas yang melelahkan, beliau meminum susu tersebut tanpa curiga sedikit pun tentang asal-usul segelas susu tersebut.

Saat itu, pembantu beliau masuk rumah dan menyaksikan tuannya telah menghabiskan segelas susu yang dia letakkan di atas meja, selanjutnya ia berkata, ''Ya Tuanku, biasanya sebelum engkau memakan dan meminum sesuatu pasti menanyakan lebih dulu asal-muasal makanan dan minuman tersebut, mengapa sewaktu meminum susu tadi engkau tidak bertanya sedikit pun tapi langsung meminumnya?'' Dengan rasa kaget, Abu Bakar bertanya, ''Memangnya susu ini dari mana?'' Pembantunya menjawab, ''Begini, ya Tuanku, pada zaman jahiliyah dulu dan sebelum masuk Islam, saya adalah kahin (dukun) yang menebak nasib seseorang.

Suatu kali setelah saya ramal nasib seorang pelanggan, dia tidak sanggup membayar karena tidak punya uang, tapi dia berjanji suatu saat akan membayar. Tadi pagi saya bertemu di pasar dan dia memberikan susu itu sebagai bayaran untuk utang yang dulu belum sempat dia bayar.'' Mendengar itu, langsung Abu Bakar memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut dan mengoyang-goyangkan anak lidah agar muntah. Beliau berusaha untuk mengeluarkan susu tersebut dari perutnya, dan tidak ingin sedikit pun tersisa. Bahkan dalam riwayat itu disebutkan, beliau sampai pingsan karena berusaha memuntahkan seluruh susu yang telanjur beliau minum dan berkata, ''Walaupun saya harus mati karena mengeluarkan susu ini dari perut saya, saya rela.''

Banyak disebutkan dalam kisah para sahabat Nabi, para salafu al shalih sangat menjaga setiap makanan dan minuman sebelum masuk ke dalam perut. Ketika mereka sudah benar-benar yakin bahwa makanan tersebut halal seratus persen, barulah mereka berani memakannya, tapi kalau masih berbau syubhat apalagi haram mereka tidak mau memakannya, walaupun harus kelaparan. Para salafu al shalih sangat takut kepada hadis Nabi, ''Setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram, maka api neraka lebih pantas untuknya.'' Di samping itu, mereka sangat yakin bahwa makanan adalah sumber tenaga dan inspirasi untuk tubuh dan otak. Makanan yang halal akan membuat tubuh gampang untuk melaksanakan ibadah.

Kehati-hatian mereka juga untuk keluarga. Mereka tidak mau memberi makanan yang haram kepada keturunannya agar melahirkan sifat terpuji, karena yakin ketika keluarga diberi makanan yang haram, jangan diharapkan istri dan anak kita akan membawa kedamaian di tengah keluarga. Sang anak dan istri akan jauh dari sifat shalih dan shalihah. Istri-istri di zaman sahabat dan salaf al shalih selalu berpesan kepada suaminya sebelum berangkat kerja, ''Wahai suamiku, kami kuat menahan lapar, tapi tidak kuat terhadap api neraka, carilah rezeki yang halal untuk kami.''


republika

READ MORE - Kisah Segelas Susu
Share/Bookmark

Keutamaan Ramadhan

(Beberapa hari yang ditentukan itu) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu .... (QS 2: 185).

Marhaban, ya Ramadhan! Marhaban berasal dari kata rahaba-yarhabu, yang berarti luas atau lapang. Dengan demikian, Marhaban, ya Ramadhan bermakna bahwa tamu yang berupa ''bulan suci Ramadhan'' itu harus disambut dan diterima dengan lapang dada. Begitulah Rasulullah SAW, para sahabat, dan umat Islam pada umumnya menyambut tamu yang penuh berkah itu. Mereka melaksanakan ibadah puasa Ramadhan bukan sekadar sebagai kewajiban sebagaimana diperintahkan oleh ayat di atas, tapi juga sebagai kerinduan.

Saking rindu dan suka citanya, Rasulullah SAW dan para sahabat dikabarkan menangis tersedu-sedan ketika Ramadhan hampir berlalu, bahkan sampai ada yang berucap, ''Seandainya tiap bulan adalah Ramadhan.''

Mengapa umat Islam begitu merindukan kedatangan Ramadhan? Dalam hadis yang diriwayatkan Baihaqi, dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Diberikan kepada umatku di bulan Ramadhan lima keutamaan yang tidak diberikan pada seorang nabi sebelumku.''

Pertama, kata Nabi Muhammad SAW, pada awal Ramadhan Allah berkenan melihat (mendatangi) mereka yang bersiap-siap untuk puasa. Sabda beliau, ''Barang siapa didatangi Allah, orang tersebut tidak akan diazab selama-lamanya.''

Kedua, sesungguhnya bau yang tidak sedap yang keluar dari mulut mereka (yang puasa) pada senja hari itu lebih harum di sisi Allah dibanding dengan minyak wangi.

Ketiga, sesungguhnya malaikat memohon ampun bagi mereka siang dan malam.

Keempat, sesungguhnya Allah memerintahkan surga-Nya seraya berfirman, ''Bersiap-siaplah surga-Ku dan berhias diri untuk hamba-hamba-Ku, mereka beristirahat dari lelahnya dunia menuju rumah-Ku dan kemuliaan-Ku.''

Kelima, sesungguhnya pada akhir malam, Allah mengampuni mereka semuanya.

Salah seorang sahabat bertanya, ''Wahai Rasulullah, apakah malam Lailatul Qadr?'' Rasulullah menjawab, ''Tidak, tidakkah kamu perhatikan para pekerja melaksanakan pekerjaannya bila telah selesai mengerjakan pekerjaannya mereka segera dibayar gajinya. Itulah ampunan yang diberikan setiap malam.''

Lima keutamaan yang dikabarkan Rasulullah SAW itu hendaklah menjadi pemacu untuk meningkatkan kualitas puasa kita untuk menggapai takwa dengan memperbanyak ibadah sunat, terutama membaca dan mengkaji Alquran. Dengan demikian, tujuan puasa akan bisa kita capai. Tujuan itu, antara lain, sebagai ibadah kepada Allah SWT (ta'abuddan lillah), memantapkan iman (tarsihan lil iman--QS 8: 2), pembersihan diri (tazkiyatun lil qulub--QS 10: 57), meluruskan pola pikir (taqwiman lil fikri--QS 17: 9), dan mengenal aturan-aturan Allah (ta'arufan biman hajillah).

Dengan berbagai keutamaan Ramadhan itu, tak aneh apabila Rasulullah SAW tak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang hanya datang sekali dalam setahun itu. Terutama pada 10 hari terakhir Ramadhan, beliau memperbanyak iktikaf bersama keluarganya di masjid. Istri Rasulullah, Siti Aisyah, menceritakan, ''Tidak pernah kulihat Rasulullah begitu sibuk kecuali ketika menghadapi 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.'' Wallahu a'lam bis-shawab.


republika

READ MORE - Keutamaan Ramadhan
Share/Bookmark

Keutamaan Jihad

''Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Janji kebenaran dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran. Siapakah yang lebih menepati janjinya, daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan besar.'' (QS At-Taubah: 111).

Islam adalah agama yang mengajarkan tradisi perjuangan dan jihad fi sabilillah. Sejak Rasulullah SAW diutus pada umur 40 tahun sampai wafat pada usia 63 tahun, kehidupan beliau diliputi dengan perjuangan, dakwah, pemikiran, politik, dan militer. Dalam kurun waktu 13 tahun di kota Makkah, beliau berdakwah melakukan perubahan. Selama dalam periode itu beliau membatasi kegiatannya hanya pada pergolakan pemikiran dan perjuangan politik. Namun, setelah beliau mendapatkan baiat dari para pemimpin Suku Aus dan Khazraj yang berkuasa di kota Madinah, berhijrah ke kota itu, dan memimpin, serta memerintah kota itu, Rasulullah SAW memperluas medan dakwahnya kepada dakwah militer, yaitu jihad fi sabilillah.

Perang jihad dilakukan oleh Rasulullah SAW. setelah mendapatkan izin dari Allah SWT. ''Telah diizinkan bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya'' (QS Al-Hajj: 39). Menurut riwayat, dalam kurun waktu 10 tahun pemerintahan beliau, negara yang beliau pimpin melakukan perang (ghazwah) jihad fi sabilillah sebanyak 19 kali dan beliau sendiri memimpin peperangan itu sebanyak delapan kali.

Beliau juga mengirim ekspedisi pasukan khusus (sariyah) sebanyak 24 kali (lihat Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah, Juz II:640). Dalam kurun itu, negara yang semula sebatas kota Madinah, telah berkembang, meliputi seluruh Jazirah Arab (kini Arab Saudi, Yaman, Oman, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab). Bangsa Arab pun berbondong-bondong masuk Islam, lantaran simpati dengan Islam dan kaum Muslimin yang berjihad bukan untuk menjajah mereka, tetapi justru menyejahterahkan mereka.

Perjuangan Islam pun semakin kuat, lantaran siapa saja yang masuk Islam menjadi pejuang Islam. Kaum Muslimin kecuali orang-orang munafik--sangat antusias mengikuti perjuangan dakwah dan jihad sebagai panggilan agama suci. Mereka siap mengorbankan jiwa dan harta untuk menggapai rida dan surga. Banyak ayat Alquran yang menumbuhkan motivasi jihad. Jihad adalah puncak Islam, kata Nabi. Ketika ditanya tentang suatu amal yang setara dengan jihad, Rasul pun bersabda, ''Tidak aku jumpai.'' Jika demikian, berjuang dan berjihad itu sungguh mulia. (Imam Syafi'i)


republika

READ MORE - Keutamaan Jihad
Share/Bookmark

Ketika Karunia adalah Ujian

Menurut ulama, tidak selayaknya kita iri hati dengan derajat yang diperoleh para nabi. Sebab, ketinggian derajat mereka sebanding lurus dengan beratnya cobaan yang mereka hadapi. Cobaan atau bala yang dihadapi para nabi bukan hanya yang berwujud penderitaan, tapi juga berupa karunia kenikmatan. Dan, mereka, para nabi itu, sangatlah layak memperoleh derajat tinggi di sisi Allah karena keteguhan mereka dalam menghadapi setiap ujian dari Allah.

Nabi Sulaiman, misalnya, meskipun diberi kekuasaan besar oleh Allah, tidak lantas menjadi lalai dan silau. Ia setiap harinya menerima tamu dan memberi mereka makan berupa tepung halus. Sedangkan keluarganya sendiri, yakni istri-istri dan anak-anaknya, diberi makan tepung kasar. Sementara itu, ia sendiri setiap harinya hanya makan gandum yang belum ditumbuk.

Demikian pula Nabi Yusuf, sang bendaharawan Mesir itu, selama hidupnya tidak pernah kenyang. Ketika ditanya alasannya, ia selalu menjawab, ''Aku takut, jika perutku sampai kenyang, maka aku akan melupakan orang-orang yang lapar.''

Nabi Muhammad SAW juga tak jauh berbeda dengan mereka. Suatu ketika Jibril sedang bersama beliau, dan tiba-tiba datang seorang malaikat yang lain. ''Aku khawatir, jangan-jangan ia membawa sebuah tugas untukku,'' kata Jibril. Tetapi, sang malaikat terus berjalan menuju Rasulullah, dan kemudian berkata, ''Salam dari Allah untukmu, ya Muhammad. Saya membawa kunci-kunci perbendaharaan bumi untuk Anda. Jika Anda mau, ambillah, niscaya semua yang ada di bumi ini akan menjadi emas dan perak. Semua itu akan abadi bersamamu hingga hari kiamat, dan tidak mengurangi sedikit pun dari apa yang akan engkau peroleh di sisi Allah SWT.''

Mendengar hal itu, Rasulullah SAW tidak silau oleh tawaran duniawi dari Allah lewat malaikat tersebut. Beliau menjawab, ''Biarlah saya terkadang lapar dan terkadang merasa kenyang.'' Karenanya, Allah SWT berfirman, ''Dan janganlah kamu tergiur oleh kesenangan yang Kami berikan kepada beberapa keluarga di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia. Kami hendak menguji mereka dengan kesenangan itu.'' (Thaha: 131).

Para nabi dan rasul tersebut senantiasa menghindarkan diri jangan sampai menikmati kelezatan yang mungkin mereka raup dari karunia Allah. Mereka berkeyakinan, segala bentuk nikmat yang datang adalah medan ujian yang mahaberat dari Allah. Mereka lebih suka menikmati dzikir dan ibadah pada-Nya. Mereka tidak pernah terpikat dengan kekayaan yang mereka miliki, sehingga tak pernah pula merasa berduka jika kekayaan itu lenyap dari tangan mereka. Juga tak merasa gembira dengan kekayaan tersebut, sehingga tak perlu berpikir panjang jika hendak memberikannya kepada orang lain.

Menurut ahli tafsir Abu Said Kharraz, mereka adalah sebagaimana yang difirmankan Allah, ''Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka ikutilah jalan petunjuk yang mereka lalui itu. (Al An'am: 90). Wallahu a'lam.


republika

READ MORE - Ketika Karunia adalah Ujian
Share/Bookmark

Kepemimpinan Kolektif

Dalam QS 8 ayat 62 Allah SWT berfirman, ''Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah menjadi pelindungmu. Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang yang beriman.''

Sudah menjadi sunnatullah bahwa perjuangan para rasul Allah, walaupun pada mulanya selalu mendapatkan berbagai macam godaan dan tantangan, seperti intimidasi, pengusiran, dan ancaman pembunuhan, tetapi pada akhirnya Allah SWT menganugerahkan keselamatan dan kemenangan kepada mereka.

Rasulullah SAW yang diusir dari Makkah oleh kaumnya, yang kemudian berhijrah ke Madinah, ternyata ujung perjuangannya adalah Futuh Makkah, yaitu terbukanya hati penduduk Makkah untuk menerima ajarannya, dan takluknya kembali kota tersebut ke pangkuan beliau dan para sahabatnya, sebagaimana digambarkan dalam QS An-Nasr (110).

Yang perlu mendapatkan perhatian kita adalah bahwa kemenangan para rasul Allah dalam dakwah dan perjuangannya, selalu dikaitkan dengan pertolongan orang-orang yang beriman, sebagaimana termaktub dalam QS 8: 62 tersebut di atas. Artinya, kebersamaan mereka dengan kaumnya yang beriman merupakan persyaratan utama turunnya pertolongan Allah SWT.

Hal ini memberikan pelajaran, betapa pun kuat dan kharismatiknya seorang pemimpin, tetapi jika ia berjalan sendirian, tanpa didukung oleh lingkaran kelompok dan sahabat yang memiliki misi, visi, dan perilaku yang sama dengannya, tidak mungkin dia akan memenangkan perjuangan.

Bahkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Nasai, Rasulullah bersabda, ''Jika Allah bermaksud menjadikan seorang pemimpin itu baik, maka dijadikan-Nya para pembantunya orang-orang yang jujur, yang mampu mendukungnya jika benar dan mengingatkannya jika salah. Sebaliknya, jika Allah menghendaki pemimpin itu jahat, maka dijadikannya para pembantunya orang-orang yang buruk pula yang tidak pernah menolong jika benar dan tidak mau mengoreksinya jika salah.''

Karena itu, melalui Pemilu 2004, masyarakat hendaknya semakin menyadari bahwa keberhasilan membangun negara dan bangsa bukanlah semata-mata ditentukan oleh kualitas individu pemimpin itu saja, melainkan juga oleh kualitas para pembantu dan pendukungnya yang tersusun dalam manajemen organisasi yang rapi. Pemimpin yang mampu membangun kepemimpinan kolektif dan kejamaahan yang solid atas dasar cita-cita dan perilaku yang dapat dijadikan suri teladan bagi masyarakat.

Mari kita jadikan kampanye pemilu sekarang ini sebagai suatu ajang penilaian, apakah calon-calon pemimpin bangsa yang mengemuka sekarang ini memiliki tim yang solid dan kuat, ataukah hanya berjalan sendiri secara sporadis dan parsial tanpa didukung oleh organisasi yang rapi dan teratur. Seyogianya pemimpin dengan organisasi yang solid dan berperilaku baik itulah yang menjadi pilihan masyarakat. Wallahu a'lam bi ash-shawab.


republika

READ MORE - Kepemimpinan Kolektif
Share/Bookmark

Kemenangan dan Kekalahan

''Katakanlah, 'Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang-orang yang Engkau kehendaki dan engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu'.'' (Ali 'Imran: 26). Apa yang dikehendaki Allah SWT jadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan jadi. Manusia bisa merencanakan tetapi Allah jua yang menentukan.

Silih bergantinya siang dan malam, kemenangan dan kekalahan, dan terjadinya perubahan menunjukkan kuasa Allah Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta serta keterbatasan kita sebagai manusia. Firman Allah SWT, ''Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah.'' (Yaa Siin: 82).

Kekalahan atau kegagalan adalah sesuatu yang paling tidak disukai banyak orang dan sulit untuk bisa diterima kecuali oleh orang-orang yang bijak dan berjiwa besar. Sebab, dia mampu melihat hikmah di balik fenomena yang terjadi. Ibarat orang yang menyelam, makin dalam dia menyelam akan semakin berpeluang mendapatkan mutiara.

Karena itu, 'memahami' kekalahan atau kegagalan, bila hanya mengandalkan syahwat indrawi, maka orang akan sering tertipu. Kegagalan atau kekalahan akan dirasakan sangat menyakitkan. Lalu, mengapa kita tidak mengambil hikmahnya? Bukankah kekalahan itu suatu kemenangan yang tertunda? Mungkin ada langkah-langkah kita yang salah, atau mungkin juga ini peringatan Allah agar kita bisa mawas diri dan menemukan yang lebih baik. Kata Rasulullah SAW, ''Dunia (kekuasaan) menurut sifatnya meninggalkan dan ditinggalkan.'' Dengan kata lain, dunia (kekuasaan/jabatan/kedudukan) tidak ada yang kekal, semua akan berubah silih berganti, datang dan pergi.

Itulah yang namanya dunia. Karena itu, kalau kita hanya silau pada kesenangan dan kenikmatan dunia, yang kita jumpai pasti hal yang tidak pasti, semu, bahkan menyakitkan. Mungkin dengan kekalahan atau kegagalan itu agar kita mau tersadar dan menundukkan kepala, barangkali kita selama ini selalu menengadah angkuh. Di sisi lain kemenangan atau keberhasilan adalah sesuatu yang tentu sangat menyenangkan. Karena menyenangkan, orang terkadang menjadi lupa diri.

Kemenangan lalu diekspresikan dengan kesombongan, congkak, dan bahkan lupa diri kepada yang memberi nikmat. Padahal, semua nikmat yang Allah berikan ada tanggung jawab dan konsekuensinya. Umar bin Abdul Aziz ketika dibaiat sebagai khalifah bukan merasa senang, tetapi justru bersedih seraya berucap, ''Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.'' Agaknya, beliau tahu betul di balik pengangkatan dirinya itu ada tanggung jawab yang besar di pundaknya sebagai amanah yang harus ditunaikan dan dipertanggungjawabkan di hadirat Allah SWT kelak.

Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, ''Kekuasaan itu bagai ular berbisa, lembut disentuhnya tetapi tetap dia berbisa.'' Wallahu a'lam.


republika

READ MORE - Kemenangan dan Kekalahan
Share/Bookmark
free counters