Tuesday, July 27, 2010

Ada Apa Dengan Mars? Terjadikah pada bumi?

MERM (MARS Exploration Rover Mission) - 24th March 2004.


The science of astronomy states that the speed of planet MARS has been decreasing in its course orbit toward the eastern direction in the few past weeks to the level we notice the "waver" between the east and the west, and on Wednesday the 30th July 2004, expected the planet movement will stop going towards the eastern direction. Then in the months of August and September 2004, MARS will change its course in the opposite direction to the west - and that until the end of September 2004, which means the sun will rise now from the west on MARS! This Weird phenomenon of the opposite movement called "Retrograde Motion". Most astronomy scientist states that all the planets in the universe will go through the same once at least and our planet EARTH is one of them. Planet Earth will move in the opposite direction someday and the sun will rise from the West!!! This might occurs soon and we are aware of it.


Terjemahan bebas:


Ilmuwan astronomi menyatakan bahwa kecepatan Planet Mars dalam lintasan orbitnya telah berkurang terhadap orbit Timur dalam beberapa minggu terakhir ini hingga ke tingkat yang meragukan geraknya antara timur dan barat.


Pada hari Rabu (30 Juli 2004), diperkirakan bahwa pergerakan planet akan berhenti bergerak dari arah timur. Kemudian, pada bulan Agustus dan September 2004, planet Mars akan merubah pergerakan orbitnya ke arah yang berlawanan (yang semula dari timur ke barat, menjadi dari barat ke timur) dimana hal ini berarti bahwa matahari akan terbit dari bagian barat Mars mulai saat ini. Fenomena yang aneh ini (pergerakan ke arah yang berlawanan) disebut "Retrogade Motion". Para pakar astronomi menyatakan bahwa semua planet di alam semesta ini akan mengalami hal yang sama, setidaknya sebanyak satu kali, dan Planet Bumi kita pun termasuk didalamnya.


Planet Bumi akan bergerak ke arah yang berlawanan dan matahari pun akan terbit dari barat!!!! Hal ini akan terjadi dalam waktu singkat dan kita semua pun pasti akan menyadarinya.


Menurut Hadist Nabi saw. Rasullullah saw bersabda: "Salah satu tanda akhir zaman (Kiamat), apabila sampai masanya... matahari terbit disebelah barat. Pada masa ini, taubat sudah tiada." hadist riwayat Muslim. Menurut Syariah Muhammadiyah, "Terbitnya matahari disebelah Barat hanya akan berlaku sekali pada masa dan ketika itu, matahari terus berada di sebelah barat. Dan matahari akan kembali terbit di sebelah timur dan seterusnya pada hari-hari yang berikut sehingga Allah menghendaki dan menetapkannya."


Inilah apa yang akan berlaku pada planet MARS. Bergerak dari timur kebarat - berhenti - bergerak kebarat dalam masa yang pendek - dan kemudian bergerak semula ke arah timur ke barat.


Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasullullah SAW pernah berkata : "Tidak berlaku dan tibanya kemusnahan dunia (Kiamat) sehingga terbitnya matahari dari barat. Apabila tiba masanya ini, semua makhluk di dunia akan segera sadar dan percaya akan kekuasaan Allah. Tetapi pada masa ini, semuanya sia-sia belaka. Tiada satu pun pintu taubat dibuka. Sesungguhnya pada MASA TERSEBUT, rugilah bagi mereka itu". Hadist Al-Bukhari, Muslim.


Maksud utama adalah inginnya saya menyeru pada rekan semua: setiap planet di dunia akan mengalami fenomena yang sama. Tahun ini, planet Mars akan berlaku matahari terbit disebelah barat. Kita tak tahu, mungkin planet-planet lain sudah pun mengalami fenomena ini, dan mungkin hanya bumi saja yang belum, kita tak tahu, hanya Allah yang tahu.


Sesungguhnya amatlah benar Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Dia sudah pun memberi tanda awal, walaupun melalui hambanya yang bukan Islam. Tapi bagi kita yang sudah beriman ini, sadarlah selagi belum terlambat. Karena sekiranya berlaku, taubat sudah tidak diterima. Dunia ini hanya sementara. Bertaubatlah dari segala dosa yang kita lakukan. Berzikirlah, walaupun hanya pada sisa-sisa masa yang terluang karena zikir itu juga penghapus dosa kita.


Ini adalah satu artikel dari seorang sahabat, ane undang antum yg lebih tahu memberikan pendapat.
READ MORE - Ada Apa Dengan Mars? Terjadikah pada bumi?
Share/Bookmark

Friday, July 9, 2010

Zuhud Pada Dunia

Selain setan dan hawa nafsu, penghalang manusia dalam menggapai mardatillah adalah dunia yang diciptakan-Nya ini. Allah SWT menyifati seluruh dunia sebagai kesenangan sesaat (QS An-Nisa:77), sesuatu yang sebentar, jika dinikmati adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan (QS Al-Hadid: 20).

Ibnu Iyad berujar, ''Seandainya dunia adalah emas yang akan sirna, dan akhirat hanyalah tembikar, tetapi akan kekal, maka kita wajib memilih yang kekal daripada yang fana.'' Selanjutnya dia berujar, ''Semua kebajikan disimpan dalam sebuah rumah dan kuncinya adalah zuhud di dunia, sedangkan seluruh kejelekan diletakkan di rumah lain dan kuncinya adalah cinta dunia.''

Bagaimana menyikapi dunia? Allah SWT memerintahkan dunia untuk menjadi pembantu bagi orang yang berorientasi kepada Allah semata. Sebaliknya, dunia adalah tuan bagi orang yang hanya berorientasi dunia belaka. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman, ''Wahai dunia, siapa saja yang menolong-Ku bantulah dia, dan siapa yang melayanimu, jadikanlah dia sebagai pembantumu!''

Dunia tidak diciptakan sebagai tujuan, tetapi sebagai tempat berjalan bagi manusia, atau sebagai perantara untuk sampai pada rida Allah SWT. Maka dari itu, dia ibarat pelayan, dan pelayan akan bersifat rendah, tidak mungkin dinilai secara agung dan mulia.

Makna kezuhudan kita pada dunia adalah dengan berpaling darinya. Zuhud memunyai surah (contoh) dan hakikat. Surah zuhud, antara lain mencukupkan dan membatasi diri dari aneka ragam makanan, pakaian, dan perhiasan. Inilah yang dulu dilakukan Rasulullah dan sebagian besar sahabat beliau. Namun, ini bukan inti sebenarnya. Zuhud tidak lebih sebagai cara untuk membersihkan hati dari sifat keduniawian.

Dengan demikian hakikat zuhud adalah kesamaan pandangan dan sikap antara penerimaan dan berpalingnya manusia terhadap dunia. Tidak berbeda baginya antara ada dan tidak adanya kebahagiaan dunia di hadapannya. Dengan kata lain, zahid (ahli zuhud) akan merasa sama saat memakai baju seharga seratus ribu atau yang hanya berharga seribu. Jika hati dan perasaannya sama tatkala memiliki harta sejuta pada hari ini dan esoknya memiliki seribu, atau tidak memiliki sama sekali, maka dia zahid yang sebenarnya.

Jadi seorang zahid tidak harus miskin. Sebaliknya orang yang tidak punya harta belum tentu zahid. Terkadang seseorang tergolong fakir, tetapi dalam pandangan Allah termasuk ahli dunia, karena otaknya hanya memikir dan mengharap dunia, menghasud orang lain yang dikarunia rezeki, membenci, dan mendengki. Terkadang seseorang memunyai harta banyak, tetapi itu tidak membuatnya lupa. Bahkan, ia menafkahkannya di jalan Allah, menyedekahkannya dalam kebaikan, atau menggunakannya untuk kepentingan agama.
READ MORE - Zuhud Pada Dunia
Share/Bookmark

Zikir Tetapi Lupa

''Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.'' (QS Al-Hasyr: 19).

Istilah zikrullah secara bahasa artinya adalah mengingat Allah. Sedangkan secara syar'i maksudnya adalah kesadaran Muslim sebagai makhluk Allah yang wajib untuk berpikir secara islami dan berbuat sesuai syariat Islam, baik dia sedang berdiri, duduk, berbaring, atau apapun. Apalagi jika sedang mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah: lailaha illallah!

Kesadaran ini menjadi ruh setiap perbuatan Muslim, dan membedakannya dengan orang kafir. Karena dengan kesadaran itu, seorang Muslim akan selalu terikat dengan syariat dan aturan Allah, sehingga dia isi kehidupan ini hanya dengan perbuatan yang mendatangkan pahala dan selalu berusaha meninggalkan perbuatan dosa. Tanpa kesadaran itu, seorang Muslim tidak ada bedanya dengan orang kafir.

Bisa jadi ketika seseorang menolong orang dengan hati baiknya dia mendapatkan nilai kemanusiaan. Dia melaksanakan ibadah atau meditasi, dengan hati beningnya dia mendapatkan nilai keruhanian. Dia bersikap jujur dan adil, dengan jiwa luhurnya dia memegang nilai moral. Namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari Allah bila apa yang dilakukan itu tidak dia kaitkan dengan perintah Allah serta motivasi iman dan takwa. Dia tidak mendapatkan pahala, apalagi keridlaan-Nya.

Istilah ingat atau zikir kepada Allah selama ini sering salah kaprah. Hanya dibatasi dengan perbuatan mengucapkan kalimat-kalimat tahlil, takbir, tahmid, tasbih, istighfar, dan lain lain. Itupun tidak jarang berupa pelafalan tanpa makna. Karenanya, seorang Muslim sering mengucapkan kalimat thoyyibah, bahkan malah menjadi agenda rutin akan tetapi perbuatannya banyak melanggar perintah Allah.

Orang itu senang berzikir untuk mengingat Allah, tetapi lupa dan enggan dengan aturan Allah. Selain perbuatan sunnah mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah, paling banter dia melakukan perbuatan wajib yang termasuk ibadah ritual belaka seperti: shalat, puasa Ramadhan, zakat fithrah, dan pergi haji. Di luar itu, dia seolah lupa bahwa Allah punya aturan yang sempurna dalam seluruh aspek kehidupan.

Walhasil, dia rajin berzikir dalam ibadah ritual saja, tetapi malas berzikir kepada Allah dalam dimensi-dimensi sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, keuangan, politik, pertahanan, dan keamanan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Nabi Muhammad dalam aspek non ritual itu bukan wahyu, tapi kreasi sosial kultural beliau.

Orang seperti ini pun banyak meninggalkan perbuatan wajib dan sunnah di bidang non ritual, bahkan dengan tanpa rasa bersalah dan berdosa menerjang larangan-larangan Allah. Ini semua akibat berzikir tetapi lupa.
READ MORE - Zikir Tetapi Lupa
Share/Bookmark

Wakil Pemerintah

Nabi Muhammad SAW mengangkat Ibnu Utabiyyah sebagai petugas pengumpul zakat Bani Sulaim. Saat kembali dia menghadap nabi, lalu berkata, ''Ini untuk engkau, sedangkan bagian ini adalah hadiah yang mereka berikan bagiku.'' Nabi menjawab, ''Kalau perkataanmu benar, mengapa engkau tidak duduk saja di rumah ayah dan ibumu sampai hadiah itu datang sendiri kepadamu?' '(HR Bukhari).

Kala lain kaum Yahudi Khaibar mencoba menyuap wakil Nabi dalam perhitungan hasil perkebunan kurma, sesuai perjanjian harus dibagi dua antara negara dan para Yahudi petani itu. Wakil pemerintah, Abdullah bin Rawwahah, dijanjikan emas dan perak oleh Yahudi asalkan mau mengurangi bagian pemerintah. Namun, dia tegas menolaknya (HR Imam Malik dan Abu Dawud).

Hikmahnya, pemberian bagi pejabat dalam tugas kenegaraan wajib ditolak, kecuali penghasilan resmi. Selain itu, setiap wakil pemerintah harus sadar bahwa mereka bertugas mewakili negara dan rakyat, sehingga wajib membela kepentingan itu, bukan kepentingan pribadi dan golongan lain.

Segala suap dan hadiah hanya untuk memanfaatkan posisinya. Mustahil, disuap kalau bukan pejabat. Penghasilan liar juga hanya akan menguntungkan si penyuap, sedangkan negara dan rakyat pasti dikorbankan.

Pada hadis lain, Nabi bersabda, ''Hadiah kepada penguasa adalah ghulul 'pengkhianatan'.'' (HR Ahmad dan Baihaqi). ''Meski sebatang jarum.'' (HR Abu Dawud), tegas Nabi terhadap keharaman pemberian selain penghasilan resmi.

Karena ajaran Islam tidak diterapkan, terjadilah penyalahgunaan wewenang, tugas, dan tanggung jawab, oleh wakil-wakil pemerintah di BUMN; lembaga keuangan yang menerima subsidi negara (dana rekapitalisasi); dan lembaga-lembaga internasional; baik bidang politik, keuangan, militer, hukum, maupun sosial budaya.

Para direksi dan komisaris BUMN atau bank rekapitalisasi, misalnya, berbuat seakan-akan BUMN dan bank itu miliknya sendiri. Ketika perusahaan untung, mereka enteng saja menyetujui pengeluaran yang berkedok kenaikan tunjangan dan bonus, termasuk bagi mereka.

Padahal, itu hak milik negara. Sebaliknya, kala rugi, orang-orang tercela itu tidak menolak pemaksaan halus untuk mencairkan dana APBN dengan membiarkan manipulasi keuangan terjadi. Seharusnya, berbagai skandal perusahaan yang negara memiliki saham di dalamnya yang diberitakan akhir-akhir ini menyadarkan kita bahwa bernegara tanpa didasari akidah dan syariah Islam hanya akan merugikan negara dan rakyat.
READ MORE - Wakil Pemerintah
Share/Bookmark

Ucapan yang Baik

Islam memerintahkan kita untuk selalu mengucapkan perkataan yang baik dan benar. Ucapan yang baik lahir dari iman, takwa, dan pengetahuan tentang etika berbicara dalam Islam. Ucapan yang baik didorong pula oleh keyakinan bahwa semua ucapan akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.

Allah berfirman, ''Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buah pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.'' (QS 14: 24-25).

Ada beberapa bimbingan Islam untuk selalu mengucapkan yang baik. Pertama, anjuran untuk banyak mengucapkan kalimat La Ilaha Illallah. Kalimat ini ringan mengucapkannya, tetapi berat timbangannya (ganjarannya) di sisi Allah. Mengucapkan kalimat ini akan memperkuat iman seseorang.

Kedua, anjuran berdoa kepada Allah. Doa yang diminta kepada Allah untuk kebaikan diri, istri, anak, keluarga, dan Muslim lain. Berdoa tidak hanya dilakukan sesudah shalat, tetapi juga ketika melakukan aktivitas yang baik. Firman-Nya, ''... Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku ....'' (QS 2: 186).

Ketiga, ketika mendapat musibah dianjurkan mengucapkan kalimat Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Ucapan ini mengingatkan apa pun musibah yang menimpa kita, semuanya berasal dari Allah. Firman-Nya, ''Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun'.'' (QS 2: 156).

Keempat, ketika mendapat nikmat dari Allah dianjurkan mengucapkan Alhamdalah. Ucapan ini untuk memuji Allah yang Mahakaya yang telah memberi nikmat kepada kita. Ini juga sekaligus pengakuan bahwa nikmat yang kita peroleh bukan karena kepintaran dan keahlian kita, tetapi karunia dari Allah.

Kelima, ketika berjanji melakukan suatu kegiatan dianjurkan untuk tidak mendahului ketentuan Allah. Sebab, manusia hanya bisa berencana, tetapi tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi. Untuk itu, ketika berjanji sebaiknya mengucapkan 'insya Allah'. Allah berfirman, ''Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi kecuali (dengan menyebut), insya Allah'.'' (QS 18: 23-24).

Keenam, apabila bertemu sesama Muslim, dianjurkan mengucapkan doa selamat, yaitu Assalamu 'alaikum .... Muslim yang mendengarnya dianjurkan menjawab dengan doa lebih baik atau minimal sama dengan doa orang untuknya. Allah berfirman, ''Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).'' (QS 4: 86). Wallahu a'lam.
READ MORE - Ucapan yang Baik
Share/Bookmark

Thalut dan Rakyatnya

Setelah Nabi Musa AS wafat, kaum Bani Israel berada dalam kondisi lemah. Mereka selalu merasa terancam oleh serangan musuh yang siap menyerang. Kekosongan kepemimpinan yang merupakan sumber dari berbagai marabahaya segera disadari oleh pemuka-pemuka Bani Israel. Mereka kemudian memohon kepada Allah SWT untuk dikaruniakan seorang pemimpin yang mampu melindungi mereka dari berbagai konspirasi musuh.

Allah SWT lalu mengutus Thalut sebagai pemimpin Bani Israel. Thalut tidaklah berasal dari golongan berharta. Hal ini sempat menimbulkan rasa pesimis dari beberapa pemuka Bani Israel. "Bagaimana mungkin ia akan menjadi pemimpin kami sementara ia tidak memiliki kelapangan harta?" kata mereka.

Rupanya anggapan bahwa seorang yang akan menjadi pemimpin mestilah memiliki modal dan dana yang besar untuk menyukseskan kepemimpinannya sudah ada sejak masa Bani Israel. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah SWT telah memilih Thalut sebagai pemimpin kalian dan membekalinya dengan ilmu dan tubuh yang kuat". Itulah sesunguhnya pertimbangan utama dalam memilih seorang pemimpin; ilmu dan tubuh yang kuat. Tentu bukan sebuah kebetulan ketika Allah SWT mendahulukan penyebutan ilmu sebelum menyebut tubuh yang kuat. Karena tak ada satu pun yang tidak bermakna dalam setiap rangkaian ayat-ayat Allah.

Bekal ilmu yang dimiliki oleh Thalut dibuktikannya ketika memimpin Bani Israel menghadapi Jalut beserta bala tentaranya. Thalut sangat menyadari bahwa modal utama dalam sebuah peperangan bukanlah jumlah yang banyak atau persenjataan yang canggih. Akan tetapi yang paling penting adalah kekokohan iman, mental, dan kesabaran prajurit-prajuritnya. Untuk mendapatkan prajurit-prajurit pilihan, Thalut melakukan seleksi yang cukup ketat. Setelah menempuh sebuah perjalanan yang cukup panjang menuju medan perang, di saat para prajuritnya didera rasa dahaga yang teramat sangat, Thalut memberikan sebuah ujian berat pada mereka: "Allah akan menguji kalian dengan sebuah sungai. Siapa yang minum dari air sungai itu maka ia tidak termasuk kelompokku dan siapa yang sanggup untuk tidak meminum air sungai itu berarti ia termasuk kelompokku."

Hasilnya? Hanya segelintir prajurit saja yang sanggup menahan nafsu minum mereka. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa dari 80.000 prajurit yang berangkat ke medan perang saat itu hanya lebih kurang 300 orang saja yang mampu bersabar dan lulus ujian. Ujian ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa prajurit yang mampu bersabar menahan nafsu dahaga mereka sudah tentu akan mampu bersabar dalam hal-hal yang lain. Begitu juga, prajurit yang bersedia taat pada pemimpin dalam ujian seperti ini tentu akan lebih taat pada hal-hal lainnya. Berkat seleksi yang berat ini, meski dengan jumlah yang jauh lebih sedikit, Thalut dengan izin Allah mampu mengalahkan Jalut. Untuk mewujudkan sebuah kepemimpinan yang sukses mestilah didukung oleh para bawahan yang bermental kuat, sabar dari godaan nafsu dan materi serta melalui sebuah seleksi yang cukup ketat. Alangkah baiknya bila hal ini juga dilakukan oleh pemimpin-pemimpin bangsa ini dalam merekrut para pembantu dan bawahan.
READ MORE - Thalut dan Rakyatnya
Share/Bookmark

Teladan Para Sahabat

Rasulullah SAW ibarat bulan purnama, sedangkan para sahabatnya laksana bintang-bintang. ''Ashhabi kan-nujum,'' kata Nabi. Karena, para sahabat adalah pantulan atau cerminan dari sosok Nabi, baik dalam pola pikir maupun tindakannya.

Suatu kali Nabi bersabda, ''Segala yang kami, para nabi, miliki tidak bisa diwariskan. Semuanya harus disedekahkan kepada kaum Muslimin.'' Oleh karena itulah, tidak ada cerita yang menyatakan bahwa Rasul pernah menahan hartanya untuk dibelanjakan di jalan Allah. Nabi tidak mewariskan apa-apa bagi keluarganya, bahkan ketika menjelang wafat beliau masih punya utang kepada seorang Yahudi (yang kemudian dilunasi oleh ahli waris beliau).

Lantas, bagaimana figur sahabat-sahabat Nabi berkenaan dengan prinsip ini? Tidak diragukan lagi, mereka sangat meneladani perilaku Nabi SAW sebegitu rupa. Misalnya Abu Bakar. Ketika Nabi menganjurkan para sahabatnya untuk bersedekah, Abu Bakar memberikan seluruh hartanya. Ketika Nabi bertanya, ''Apa yang akan engkau tinggalkan untuk anak-anakmu kelak?'' Abu Bakar menjawab, ''Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Dia pasti akan membalasku dengan berlipat ganda.''

Ketika Abu Bakar menjadi khalifah dan segala kemewahan dunia menghinakan diri di depannya, dia tidak silau. Meski sebagai khalifah, Abu Bakar tak bersikap sombong. Dia mendapat julukan ''bapak orang berbaju robek'' karena sehari-hari memakai baju yang penuh tambalan. Ketika Umar menjabat sebagai khalifah, Persia dan Romawi telah ditaklukkan oleh tentara Islam. Akan tetapi, bagaimana kehidupan Umar sehari-hari? Menurut riwayat, saban hari Khalifah Umar sarapan roti kering dan minyak biasa. Pakaian Umar dipenuhi tambalan dan sebagian besar terbuat dari kain kasar.

Khalifah Utsman tidak jauh berbeda dengan pendahulunya. Beliau tak pernah enggan mendidik jiwanya dan memaksanya dengan pekerjaan-pekerjaan mahaberat. Konon, sering Utsman memikul kayu kering dari kebunnya. Orang-orang pun bertanya, ''Ya, Khalifah, mengapa engkau sedemikian menyiksa diri?'' Utsman menjawab, ''Aku ingin menguji diri, apakah sanggup menanggung kesulitan hidup.''

Diceritakan pula, ketika menjadi khalifah, Ali bin Abi Thalib pernah membeli sehelai kain seharga empat dirham dan sepotong baju seharga lima dirham. Setelah dicoba, ternyata lengan bajunya terlalu panjang. Khalifah Ali pun segera pergi ke tukang jahit. Dia meminjam gunting, kemudian memotong lengan yang kepanjangan itu dengan tangannya sendiri.

Demikianlah para sahabat utama Rasulullah SAW. Kekuasaan tak melenakan mereka. Jabatan bukanlah sarana untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Menduduki jabatan publik, bagi mereka, bukanlah kesempatan untuk memperkaya diri. Jabatan adalah amanah rakyat, sehingga hal yang harus dikedepankan adalah mengabdi kepada rakyat; bukan sebaliknya: memikirkan diri sendiri. Naudzubillah.
READ MORE - Teladan Para Sahabat
Share/Bookmark

Teladan Keluarga Pejabat

Suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz kedatangan seorang tamu yang tidak lain adalah bibinya sendiri. Kedatangannya untuk meminta tambahan jatah dana dari Baitul Mal (kas negara). Mungkin sang bibi berpikir karena yang menjadi penguasa adalah kemenakannya sendiri, sehingga akan mudah baginya meminta tambahan dana dari kas negara. Ketika sang bibi masuk, Khalifah Umar sedang makan kacang (adas) dan bawang sebagaimana makanan rakyat jelata. Melihat sang bibi datang ia segera menghentikan makannya.

''Wahai Amirul Mukminin, aku ingin tambahan dana subsidi dari Baitul Mal,'' pinta sang bibi. ''Tunggu sebentar,'' kata Umar. Kemudian, Umar pun mengambil satu dirham uang perak dan membakarnya di atas api. Setelah tampak panas, ia membungkusnya dengan kain. ''Inilah uang tambahan yang bibi minta,'' kata sang khalifah sembari menyerahkan bungkusan tersebut ke tangan bibinya.

Begitu menggenggamnya, spontan sang bibi melemparkannya sambil menjerit kesakitan dan kepanasan. Umar berkata, ''Wahai bibi, kalau api dunia saja begitu panas dan menyakitkan, bagaimana dengan api akhirat kelak yang akan membakar aku dan bibi karena menyelewengkan harta negara?''

Umar adalah manusia biasa sebagaimana para pemimpin dunia pada umumnya. Ia juga memiliki rasa cinta terhadap istri, anak, dan kerabatnya. (Ali Imran: 14). Namun, ia tidak ingin salah dalam merealisasikan rasa cintanya. Baginya, mudah sekali melakukan apa saja atas nama kekuasaannya, termasuk menggunakan harta negara. Namun, itu tidak ia lakukan.

Beruntung, keluarga sang khalifah mempunyai pemahaman yang sama dengan bapaknya. Suatu malam, selepas Isya, Khalifah Umar menemui anak-anaknya. Melihat sang ayah datang, mereka segera memasukkan tangan ke mulut, dan segera pergi. Melihat itu, Umar merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada diri para anak-anaknya. ''Mengapa mereka menutupi mulutnya dan cepat-cepat menjauhiku,'' tanya Umar keheranan kepada pembantunya. ''Mereka tidak memiliki makanan selain makanan kebanyakan orang, yaitu kacang (adas) dan bawang. Mereka tidak ingin tuan mengetahui hal itu,'' jawab sang pembantu.

Mendengar itu Umar pun menangis, lalu ia berkata kepada anak-anaknya, ''Wahai anak-anakku, apa artinya kalian memakan bermacam-macam makanan yang enak dan lezat kalau toh nantinya dapat mengantarkan ayah kalian ini ke lembah api neraka?'' Para anaknya pun menangis terharu, merasakan betapa beratnya tanggung jawab ayah mereka sebagai penguasa.

Sikap yang dimiliki Umar dan keluarganya itu merupakan cermin keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah SAW. Mereka paham betul sabda Rasulullah SAW, ''Wahai manusia, siapa saja di antara kalian yang diangkat menjadi pegawai kami untuk melakukan pekerjaan tertentu, kemudian menipu kami tentang penghasilannya, maka (ketahuilah) sesungguhnya apa yang lebih dari penghasilannya adalah harta haram yang membuatnya tersiksa pada hari kiamat.'' (HR Abu Dawud). Wallahu a'lam.
READ MORE - Teladan Keluarga Pejabat
Share/Bookmark

Teladan dari Gembala

Abdullah bin Dinar meriwayatkan bahwa suatu hari dia berjalan bersama Amirul Mukminin Umar bin Khattab dari Madinah menuju Makkah. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan anak gembala. Lalu timbul dalam hati Khalifah Umar untuk menguji sejauh mana kejujuran dan keamanahan si anak gembala itu.

Maka, terjadilah dialog berikut ini. ''Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!'' ujar Amirul Mukminin. ''Aku hanya seorang budak,'' jawab si gembala. Umar bin Khattab berkata lagi, ''Katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala.''

Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Khalifah Umar, ''Fa ainallah?'' (Kurang lebih maknanya adalah, ''Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa siksa Allah itu pasti bagi para pendusta?''

Umar bin Khattab adalah seorang khalifah, pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, persendian-persendian tulangnya terasa lemah, kemudian beliau menangis. Menangis mendengar kalimat tauhid itu, yang mengingatkan pada keagungan Allah, dan tanggung jawabnya di hadapan-Nya kelak.

Lalu dibawanya anak gembala yang berstatus budak itu kepada tuannya, kemudian ditebusnya, dan beliau berkata, ''Dengan kalimat tersebut (Fa ainallah?) telah kumerdekakan kamu dari perbudakan itu dan dengan kalimat itu pula insya Allah kamu akan merdeka di akhirat kelak.'' Peristiwa di atas jelas merupakan cermin jiwa yang ihsan, serta gambaran iman yang melahirkan sifat jujur dan amanah.

Alangkah indahnya negeri ini bila penduduknya memiliki iman dan ihsan seperti anak gembala itu. Apalagi jika iman dan ihsan itu ada pada orang-orang yang dominan memegang peranan penting di negeri ini. Kita akan menikmati kesungguhan presiden dengan jajaran para menteri kabinet dan seluruh aparat pemerintahannya untuk memajukan bangsa dan memakmurkan rakyatnya, bebas dari rasa takut, bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Bila iman dan ihsan menyebar di negeri ini, maka kita akan mendapati politisi yang jujur, jauh dari praktik rekayasa negatif untuk menjatuhkan lawan politiknya, polisi yang mengayomi masyarakat, karyawan dan para buruh yang memiliki dedikasi dan tanggung jawab. Insya Allah, peraturan akan dipatuhi, negara akan aman, kemakmuran akan dinikmati, hati penduduk negeri menjadi damai.

Demikian memang jaminan dari Allah SWT di dalam Alquran, ''Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.'' (Al A'raf: 96). Wallahu a'lam.
READ MORE - Teladan dari Gembala
Share/Bookmark

Tahun Baru Hijrah

Hijrah adalah satu peristiwa penting yang harus selalu melekat dalam benak kaum Muslim. Hijrah adalah perjalanan Rasulullah Saw dan para shahabat beliau ke Madinah untuk menyongsong kehidupan bernegara yang berdaulat dan berdiri sendiri serta terbebas dari penguasaan negara- negara lain. Hijrah itulah yang dijadikan sebagai awal penanggalan dalam Islam, awal munculnya sebuah umat dalam sejarah dunia yaitu umat Islam, yang dikatakan oleh Allah sebagai umat terbaik yang lahir ke dunia.

Sekarang sudah memasuki tahun ke-1424 di mana umat ini telah eksis di belantara kehidupan hampir satu setengah milenium. Suatu umur yang amat panjang, sehingga amat wajar jika umat ini telah melewati segala pahit- manis, susah-senang, maju-mundur sebagai umat dan peradaban, umat ini pernah melalui masa-masa gemilang yang tidak ada tandingannya dalam sejarah, menaungi kemanusiaan dengan keadilan dan kesejahteraan, sebab Islam bukan hanya rahmat bagi umat Muslim tetapi rahmat bagi seluruh alam, seluruh manusia. Bukankah Allah SWT telah berfirman, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam." (QS Al-Anbiyaa: 107).

Namun sayang, sekarang ini umat Muslim sedang terbelenggu oleh penguasaan negara-negara kafir. Harta mereka dikuasai, tenaga mereka dikuras, dan mereka hidup dalam kehidupan yang sempit. Semua ini disebabkan oleh umat ini telah berpaling dari mengingat Allah, mengingat aturan-aturan-Nya, dan menerapkannya dalam kehidupan seperti yang difirmankan-Nya dalam ayat 124 Surat Thaha: "Dan barang siapa berpaling dari mengingat-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (maisyatan dhonka)."

Inilah realitas yang harus diubah sehingga dibutuhkan kemauan baja dari orang-orang yang menganut akidah Islam dengan sangat kuat. Mereka ini tidak mempedulikan segala rayuan dunia yang fana ini, dan hanya mencintai pertemuan dengan Rabb mereka dan hanya menginginkan keridhaan- Nya semata.

Dengan modal keimanan dan usaha yang terus-menerus, usaha itu pasti akan mencapai titik balik perjalanan umat ini. Mereka akan bangkit dan akan menjadi pengatur dunia ini untuk kedua kalinya. Dan yang akan mem-back-up semua itu adalah Allah, Sang Pemilik Segala Kekuatan, yang tidak ada satu kekuatan pun di atas kekuatan-Nya. Apakah itu senjata pemusnah massal atau yang di bawah itu.

Maka, siapakah yang masih ragu akan semua ini? Dengan semangat Hijrah, umat ini hendaknya hijrah untuk mengingat Rabbnya dan membumikan syariat-Nya di dunia ini agar Islam benar-benar menjadi rahmat bagi semesta alam.
READ MORE - Tahun Baru Hijrah
Share/Bookmark

Srikandi Muslimah

Perempuan adalah saudara laki-laki. Demikian ungkapan Rasulullah SAW tentang perempuan, seperti diriwayatkan dalam sahih Bukhari. Pernyataan seperti ini banyak ditemui dalam sirah dakwah Nabi SAW.

Kaum Muslimin tidak akan lupa bahwa yang pertama kali mengimani Muhammad ibnu Abdullah sebagai Nabi dan Rasul adalah seorang perempuan yang dijadikan oleh Allah SWT sebagai istrinya, Ibu Khadijah.

Beliaulah yang membantu Rasul berdakwah, membelanya, dan mengeluarkan harta bendanya bagi dakwah. Ia sangat mencintai suaminya di saat banyak orang mengucilkan dan membencinya. Beliaulah yang berada di sisi Rasul dan membela dakwah Nabi dengan tegar tanpa surut sampai akhir hayatnya tiga tahun sebelum hijrah. Inilah srikandi Muslimah pertama.

Di Makkah dan Madinah bukan hanya laki-laki yang berdakwah, melainkan juga perempuan. Saudah binti Zam'ah, setelah memeluk Islam, segera mendakwahi keluarganya sampai suaminya masuk Islam.

Bahkan keduanya saling mendukung untuk turut berhijrah ke Habasyah. Demi dakwah, sang suami pun meninggal di negeri Najasyi itu. Akhirnya sepulangnya ke Makkah, Allah SWT menetapkannya sebagai istri Nabi SAW.

Ummu 'Ammar (istri Yasir, ibunya 'Ammar bin Yasir) adalah orang pertama yang terbunuh fi sabilillah untuk kemudian diikuti oleh suaminya. Demikian pula Fatimah binti Al-Khatab yang didampingi oleh suaminya berdiskusi dengan kakaknya Umar bin Khatab yang berakhir dengan masuknya Umar ke dalam Islam.

Di kala pasukan Nabi hendak pergi ke Khaibar, pergilah Ummu Sinaan menghadap Beliau, meminta disertakan dalam pasukan guna keperluan menjaga minuman, mengobati orang sakit dan orang luka, dan menjaga perbekalan. Permintaan tersebut dikabulkan Rasulullah dengan menyatakan, ''Pergilah dengan mendapat berkah dari Allah.''

Tidak jarang peran perempuan Muslimah ketika itu pada bidang yang berisiko tinggi. Asma binti Abu Bakar bertugas mengantar makanan bagi ayahandanya (Abu Bakar) dan Rasulullah SAW yang tengah bersembunyi di gua Sur dalam perjalanan hijrah ke Madinah.

Peran ini sangat berbahaya bagi keselamatan dirinya. Namun, dengan cerdik, Asma berjalan menuju bukit itu sambil menggembalakan kambing. Ia berjalan di depan, kambing-kambingnya di belakang sehingga jejak kakinya terhapus jejak kambing. Akhirnya Rasul dan Abu Bakar pun lolos.

Terang sekali, betapa kaum perempuan seyogianya menjadi srikandi Muslimah seperti mereka. Sudah saatnya perempuan menolak kaum hawa didudukkan atau mendudukkan diri sebagai pengeksploitasi birahi, penghibur dengan goyangan dahsyat, penumpuk kekuatan pada kecantikannya, dan pengabai terhadap kehidupan masyarakat yang para warganya dilahirkan dengan penuh kesusahan?
READ MORE - Srikandi Muslimah
Share/Bookmark

Sumpah Pejabat

Sewaktu dilantik sebagai khalifah, Abu Bakar Siddik menyampaikan pidato kenegaraan yang sangat brilian. Dalam pidatonya, ia menegaskan dirinya bukanlah orang yang terbaik. Lantaran itu, ia meminta dukungan umat Islam sekiranya ia benar, dan mengharapkan kritik dan koreksi kalau ia salah atau bertindak serong.

Umar bin Khattab, pengganti Abu Bakar, dalam pengukuhannya sebagai khalifah, menyampaikan pidato yang lebih kurang sama. Antara lain, ia menegaskan komitmennya untuk berpegang teguh pada Alquran dan Hadis secara konsekuen dan konsisten. Lalu, katanya lagi, ''Kalau kalian melihat ada penyimpangan pada diriku, maka kalian harus meluruskannya.''

Mendengar pernyataan Umar itu, seorang penggembala yang ikut hadir dalam acara pelantikan, berdiri sambil mengacungkan pedangnya seraya berkata, ''Kalau kulihat ada penyimpangan dalam diri Tuan, maka aku akan luruskannya dengan pedangku ini!''

Umar, sang khalifah, tersenyum. Ia bersyukur kepada Allah SWT, karena merasa masih ada di antara rakyatnya yang memiliki iktikad baik untuk menegakkan kebenaran.

Kita dapat memetik pelajaran berharga dari teladan kedua tokoh Islam itu. Bagi keduanya, pelantikan pejabat (bay'at) bukanlah upacara tahunan atau seremonial belaka tanpa makna. Sumpah janji yang diucapkan pejabat bukan pula koor atau pernyataan yang hanya bersifat verbalistik. Sumpah janji dengan dan atas nama Tuhan itu pada hakikatnya adalah komtimen iman dan sekaligus kontrak sosial yang mengikat para pejabat untuk selalu berpihak kepada kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan rakyat.

Dalam Islam, pelantikan dan sumpah pejabat itu dinamakan bay'at, berasal dari kata bay' yang secara harfiah berarti jual-beli. Jual-beli (bay') melibatkan dua pihak: satu pihak menyerahkan barang (mutsman) dan pihak yang lain menyerahkan uang (tsaman). Seperti halnya jual-beli (bay'), bay'at juga melibatkan dua pihak, yaitu pejabat (pemimpin) dan rakyat (yang dipimpin), yang keduanya harus pula saling berbagi dan memberi.

Ibn Manzhur, pengarang Lisan al-'Arab, memahami bay'at sebagai sebuah transaksi (mu'aqadah) dan kontrak sosial (mu'ahadah) yang mengikat kedua belah pihak: pemimpin dan rakyat yang dipimpin. Dengan bay'at, masing-masing pihak seolah-olah telah menjual atau membeli dari pihak lain (mubaya'ah). Pemimpin menuntut kepatuhan (tha'at), tetapi rakyat menuntut keadilan, rasa aman, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Jadi, dalam Islam bay'at itu mengandung empat makna. Pertama, tekad untuk memegang teguh Alquran dan Sunnah. Kedua, tekad untuk bekerja dan menjalankan roda kepemimpinan sesuai dengan petunjuk keduanya. Ketiga, tekad untuk selalu berbuat adil dan mementingkan kemaslahatan umat. Keempat, tekad untuk bersikap terbuka dan bersedia menerima saran dan kritik konstruktif dari rakyat.

Ini berati, bay'at memiliki implikasi teologis dan sosiologis sekaligus. Para pejabat yang menjalani bay'at tentu harus tahu dan memahami implikasi dari bay'at itu.
READ MORE - Sumpah Pejabat
Share/Bookmark

Simbol-simbol Kemewahan

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang bertakwa lagi kaya yang menyembunyikan simbol-simbol kekayaannya (kemewahannya).'' Sering terjadi kesalahan pandangan dan persepsi di sebagian masyarakat kita bahwa Islam adalah agama yang tidak mendorong umatnya untuk memiliki kekayaan. Cukuplah umat Islam itu menjadi umat yang miskin yang tidak menguasai sektor-sektor kehidupan. Umat Islam harus cukup puas dengan kegiatan di masjid dan di majelis taklim. Sedangkan kegiatan di sektor-sektor ekonomi, industri, pasar, dan yang lainnya diserahkan kepada non-Muslim.

Tentu saja pandangan semacam ini sangat berbahaya karena akan mengakibatkan umat Islam selalu terpinggirkan dan tidak akan mampu menguasai sektor-sektor strategis yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan. Hadis tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang beriman yang memiliki kekayaan yang didapatkan dengan cara-cara yang elegan, transparan, dan sportif, yang sesuai dengan norma dan etika Islam. Bukan kekayaan yang didapatkan melalui cara-cara yang tidak halal seperti kegiatan riba, menipu, korupsi, dan cara-cara kotor lainnya. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah 188, ''Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta tersebut dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.''

Cukup banyak ayat Alquran dan hadis Rasulullah SAW yang menyuruh umat Islam untuk kaya. Misalnya ayat-ayat yang memerintahkan untuk bersedekah, berinfak, berzakat, serta membantu fakir miskin, dan yatim-piatu. Untuk bisa bersedekah dan berzakat, misalnya, tentu orang yang bersangkutan harus berkecukupan. Semakin orang itu berkecukupan alias kaya, zakat dan sedekah yang dikeluarkan tentu akan semakin banyak. Juga hadis Nabi SAW yang menyatakan ''tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah'' dan ''Muslim yang kuat lebih baik dari Muslim yang lemah''. Semua itu menunjukkan bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk kaya.

Namun, kekayaan atau harta yang didapatkan haruslah dengan cara-cara yang halal. Kehalalan inilah yang akan mendorong pemiliknya memberikan kebaikan dan kemanfaatan bagi masyarakat luas. Dan, itulah yang terjadi pada diri sahabat Nabi Muhammad SAW yang kaya seperti Usman bin Affan dan Abdurahman bin Auf. Para sahabat tersebut kekayaannya tampak pada sikap mereka di dalam berinfak, bersedakah, dan berkorban untuk kepentingan agama serta pembangunan masyarakat.

Bukan pada penampakan simbol-simbol kekayaan dan kemewahan yang pada saat ini dianggap sebagai sebuah kebutuhan, keharusan, dan keniscayaan. Menyembunyikan simbol-simbol kemewahan pada saat sebagian besar masyarakat sedang menderita, jelas harus dilakukan, apalagi kemewahan yang berkaitan dengan jabatan seperti tergambar pada rumah dinas, mobil dinas, dan fasilitas wah lainnya. Sungguh sangat menyakitkan perasaan masyarakat apabila untuk pakaian dinas seorang kepala daerah saja sampai menghabiskan ratusan juta rupiah. Untuk itu, upaya pimpinan MPR periode 2004-2009 yang menolak fasilitas yang terkesan mewah merupakan langkah yang perlu diikuti oleh semua pejabat publik dari pusat sampai daerah, agar masyarakat semakin yakin bahwa perasaan para pejabat adalah sama dengan perasaan mereka. Wallahu a'lam bis-shawab.
READ MORE - Simbol-simbol Kemewahan
Share/Bookmark

Semangat yang Baik

"Janganlah seseorang dari kamu membangunkan temannya dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di tempat itu. Tetapi, hendaklah ia memperluas (renggang)-kan untuk memberi tempat." (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Dalam hidup, rasa takut kerap menghantui kehidupan manusia. Takut akan runtuhnya suatu jabatan, takut kewibawaannya berkurang, takut hartanya dicuri, takut terhadap binatang buas, dan sebagainya. Islam sangatlah menghormati hak-hak orang lain. Membebaskan manusia dari sebagian ketakutan hati, kecemasan pikiran, kekhawatiran hidup, semuanya termasuk dalam perbuatan mulia.

Takut, cemas, dan khawatir itu tentu banyak warna dan bentuk variasinya. Rasa takut yang dapat mengakibatkan rusaknya semangat dan kejiwaan seseorang, seperti yang dicontohkan di atas, termasuk takutnya seorang warga kepada penguasa tiran.

Bentuk ketakutan seperti ini, umumnya hanya terjadi pada masyarakat yang tidak mengenal demokrasi. Akibatnya, warganya akan menyimpan rasa benci dan rasa takut yang terpendam serta sikap diam atau "tutup mulut". Andai kata mereka sempat mengeluarkan perkataan, tentulah ucapannya seperti yang pernah diucapkan penduduk Makkah yang hidup pada zaman kezaliman kaum Jahiliyah, seperti tercantum dalam Alquran, "Orang lemah baik pria maupun wanita dan anak-anak, yang semua mereka berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri (Makkah) yang zalim penduduknya'." (QS an-Nisaa: 75).

Kecemasan menghadapi masa depan akan bersikap ragu-ragu dalam bertindak. Dikhawatirkan kelak hanya akan memiliki jiwa 'penonton', atau jiwa budak, bukan berjiwa pemain atau pemimpin.

Pengalaman sering membuktikan, hanya para penonton yang selalu tak puas dengan para pemain, wasit, dan orang-orang terkait, sementara pemain sendiri umumnya tak sempat berbuat demikian, karena sibuk. Dengan demikian, sikap saling menyalahkan dan mengambinghitamkan seseorang, pada gilirannya akan menciptakan kerusakan akhlak dan lingkungan dalam bentuk tersendiri.

Suatu pengalaman, ketika dua orang sahabat Rasulullah SAW, yakni Mu'adz dan Abu Musa Al-Asy'ary dikirim Rasulullah untuk berdakwah ke Yaman, kepada mereka beliau berpesan untuk bersikap mengayomi. "Kalian berdua hendaklah berbuat kemudahan dan janganlah berbuat kesukaran, hendaklah kalian berbuat hal-hal yang menyenangkan, dan janganlah kalian berbuat akan hal-hal yang menjauhkan."
READ MORE - Semangat yang Baik
Share/Bookmark

S a l a m

Sejak Nabi Adam AS, salam sesungguhnya sudah dikenal dan bahkan disyariatkan oleh Allah SWT. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya. Beliau bersabda, ''Ketika Allah menciptakan Adam AS, Allah berfirman kepadanya, 'Pergilah dan ucapkanlah salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu kemudian dengarkanlah jawaban mereka kepadamu. Sesungguhnya jawaban itu merupakan penghormatan bagimu dan bagi anak cucumu'. Maka Adam mengucapkan, 'Assalamu'alaikum'. Mereka menjawab, 'Assalamu'alaikum warahmatullah'. Mereka memberi tambahan dengan, 'warahmatullah'.'' (HR Muttafaqun 'alaih).

Dalam salah satu kisah dalam Alquran, Nabi Ibrahim AS pernah menjawab salam dari para malaikat. Allah SWT berfirman, ''Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim, malaikat-malaikat yang dimuliakan? Ingatlah ketika mereka masuk ke tempatnya dan mengucapkan, 'Salamun'. Ibrahim pun menjawab, 'Salamun'. Kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.'' (QS 51: 24-25).

Dalam kehidupan sehari-hari sudah selayaknya kita sebagai umat Islam untuk senantiasa menebarkan salam. Baik ketika kita bertatap muka dengan orang lain, ketika hendak masuk rumah, maupun pada saat membuka sebuah majelis pertemuan dan berbicara di depan publik. Dalam menyampaikan salam dianjurkan untuk mengucapkannya dengan sempurna agar mendapatkan pahala yang lebih banyak.

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Turmudzi, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa barangsiapa yang mengucapkan ''Assalamu'alaikum'' maka pahala yang didapatkannya adalah satu hasnah dan dilipatgandakan menjadi sepuluh hasnah. Barangsiapa yang menambahkannya menjadi ''Assalamu'alaikum warahmatullah'', pahalanya dua hasnah dan akan dilipatgandakan menjadi 20 hasnah. Sedangkan yang menyempurnakannya ''Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh'' maka pahalanya menjadi tiga hasnah dan dilipatgandakan sampai 30 hasnah.

Di antara fadhilah-nya, salam dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap sesama Muslim. Dari Abu Hurairah RA berkata, ''Rasulullah SAW bersabda, 'Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu, sebarluaskanlah salam di antara kamu sekalian'.'' (HR Muslim).

Selain itu, Rasulullah pernah menyampaikan bahwa salam merupakan jaminan kesejahteraan bagi umat Islam. Bagi orang-orang kafir yang mau tunduk pada hukum-hukum Islam atau yang disebut dengan ahlu dzimmah, salam juga merupakan jaminan keamanan. ''Sesungguhnya Allah menjadikan salam sebagai kesejahteraan bagi umat kami dan keamanan bagi ahlu dzimmah kami.''
READ MORE - S a l a m
Share/Bookmark

Sakit Sebagai Kafarat

Hidup tak selalu berjalan lurus, menyenangkan, dan membahagiakan. Suatu saat manusia akan mengalami siklus yang membuatnya tidak dapat melakukan apa-apa. Dan, karena siklus inilah, Allah SWT menuntut umat manusia untuk menghadapinya dengan baik, sesuai dengan petunjuk-Nya. Dengan siklus kehidupan ini juga, umat manusia sesungguhya diuji, apakah tetap tegar dan optimistis, ataukah putus asa.

Sakit adalah salah satunya. Tak selamanya manusia berada dalam kondisi sehat, yang memungkinkannya dapat melakukan apa saja. Suatu waktu ia pasti akan didera oleh satu hal yang membuatnya harus terbaring tak berdaya di atas ranjang, atau salah satu anggota badannya tidak berfungsi dengan baik. Pada kondisi seperti ini, godaan untuk berkeluh kesah dan putus asa akan selalu menyerangnya setiap saat, karena orang sakit potensial untuk putus asa.

Sakit sesungguhnya adalah batu ujian bagi seorang Mukmin. Sakit bukanlah adzab yang dilimpahkan karena kebencian Allah, tapi justru itu adalah bagian dari kasih dan perhatian Allah SWT yang begitu besar kepada orang beriman. Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya seorang yang beriman ketika didera musibah sakit, kemudian Allah menyembuhkannya, maka itu adalah kafarat (penghapus) bagi dosa-dosa yang ia lakukan sebelumnya. Ia sekaligus menjadi pesan berharga untuk menghadapi masa yang akan datang.'' (HR Abu Dawud).

Mengapa Allah menghapus dosa-dosa orang Mukmin yang sedang sakit? Ada dua hal yang menjadi alasannya. Pertama, faktor kesabaran, ketabahan, dan optimisme seorang Mukmin. Sakit justru adalah ujian kesabaran yang mesti dihadapi dengan sikap lapang dada dan besar hati. Dalam beberapa ayat Alquran, Allah SWT sering menyitir bahwa Dia akan selalu menyertai orang-orang yang sabar dalam menerima ujian, tak terkecuali sakit ini. ''Sesungguhnya Allah akan selalu menyertai orang-orang yang sabar.'' (QS 2: 153).

Kebersamaan Allah dengan Mukmin yang sakit adalah rahmat yang tiada terkira. Maka, biarpun rasa sakitnya teramat parah, namun karena ia merasa bahwa Allah selalu menyertainya, maka hampir-hampir tidak merasakan. Yang ada hanyalah kedamaian dan ketenteraman berada selalu di sisi-Nya.

Kedua, faktor kesadaran yang timbul akibat sakit tersebut. Sakit sesungguhnya adalah waktu bagi seseorang untuk merenung dan mengingat-ingat segala perbuatan yang dilakukan sebelumnya. Seorang Mukmin yang sakit akan menjadikan sakit itu justru sebagai ladang introspeksi diri, sejauh mana ia melakukan segala perintah Allah SWT atau menjauhi larangan-Nya, pada saat ia belum sakit. Sakit sekaligus menjadi pesan bahwa manusia sejatinya adalah mahluk lemah yang tidak dapat berbuat apa-apa. Sakit yang diderita adalah bentuk konkretnya.

Dengan demikian, orang yang sakit seharusnya menyadari bahwa sakit justru merupakan karunia tak terkira baginya. Karena, dengan demikian, berarti Allah SWT masih peduli dan perhatian padanya. Kafarat dosa tentu adalah salah satu bagian dari itu. Di balik itu tersimpan pesan yang lebih besar : Allah SWT sesungguhnya sedang meninggikan derajat seorang Mukmin yang sedang sakit. Wallahu a'lam.
READ MORE - Sakit Sebagai Kafarat
Share/Bookmark

Sabar Itu Indah

Alquran surat Yusuf berisi kisah menarik. Tak hanya sebatas kisah suka-duka kehidupan Nabi Yusuf, tapi juga sekaligus menggambarkan kesabaran ayahandanya, Nabi Ya'qub. Bermula dari hidup damai bersama istri dan 12 anaknya, Ya'qub mendapat informasi melalui ta'wil mimpi Yusuf, bahwa anak bungsunya itu bakal menjadi panutan keluarga. Ya'qub merasa gembira, namun ia berusaha mengendalikan emosinya dengan melarang Yusuf memberi tahu semua saudaranya.

Ya'qub khawatir berita gembira itu bakal membuat iri anak-anaknya yang lain. Itu sebabnya Ya'qub merasa berat hati melepas Yusuf yang diminta saudara-saudaranya untuk ikut bersama mereka jalan-jalan ke luar kota. Ketika 10 orang anaknya memberitakan Yusuf dimakan serigala sambil memperagakan baju Yusuf yang berlumuran darah palsu, Ya'qub amat sedih. Ia sudah mulai tua dan tidak berdaya mengungkap kejadian sebenarnya. Kata Ya'qub kepada anak-anaknya, ''Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.'' (Yusuf: 18).

Puluhan tahun Ya'qub berduka cita karena kehilangan Yusuf. Ia terus menangis hingga matanya menjadi buta. Tapi, emosi tetap terkendali. Semua anaknya tidak ada yang dibenci, tidak ada yang disakiti fisik maupun jiwanya, dan tidak ada yang dikucilkan atau disingkirkan. Rasa sedih kehilangan Yusuf belum berakhir. Ya'qub harus melepas Benyamin yang seibu dengan Yusuf bersama saudara-saudaranya untuk mendapatkan bahan makanan di Mesir. Dan, anak-anaknya pun melaporkan bahwa Benyamin ditahan pembesar Mesir karena tuduhan mencuri takaran emas milik kerajaan. Kembali Ya'qub berkata seperti sewaktu kehilangan Yusuf. (Yusuf: 83).

Pernyataan Ya'qub menunjukkan ia tetap sabar dan dapat mengendalikan emosinya serta senantiasa mengharap pertolongan Allah SWT. Alhasil, ketika 10 orang anaknya ke Mesir lagi untuk ketiga kalinya buat mendapatkan bahan makanan, mereka menemui Yusuf yang ternyata sudah menjadi pembesar Mesir. Yusuf yang melayani mereka dalam mendapatkan bahan makanan di sana, dan Yusuf pula yang melakukan sandiwara dengan menahan Benyamin sebagai langkah awal untuk mereka saling mengenal dan berkumpul kembali.

Itulah sebuah pelajaran kesabaran. Kesabaran kadangkala membutuhkan waktu yang cukup panjang dan tidak cukup dengan satu kali cobaan, sehingga kesabaran itu semakin terbukti dan teruji. Maka, orang yang sabar tidak mengeluh karena panjangnya waktu yang dilalui. Dia juga tidak muak karena cobaan yang datang tindih-bertindih. Kesabaran seperti itu pula yang harus ada pada setiap mukmin. Sabar dalam pengertian mampu mengendalikan emosi sehingga tidak sampai bertingkah aneh dan melampuai batas. Sabar menghadapi persoalan hidup betapa pun beratnya. Firman Allah SWT: ''Hai orang beriman, minta tolonglah kamu dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.'' (Al Baqarah: 153).
READ MORE - Sabar Itu Indah
Share/Bookmark

Saat Terakhir

Dalam kitab Zubdatul Wa'idhin dijumpai keterangan bahwa suatu ketika Jibril mendatangi Nabi Muhammad saw dan menyampaikan firman Allah, ''Barang siapa yang bertobat kira-kira setahun sebelum meninggal dunia, maka diterimalah tobatnya itu.'' Kemudian Rasul berkata, ''Wahai Jibril, setahun bagi umatku itu tidaklah sebentar. Dalam waktu yang lama itu, mungkin mereka lalai, berpanjang angan-angan. Apa mungkin mereka terpelihara dari dosa?''

Malaikat Jibril meninggalkan Nabi Muhammad saw. Sebentar kemudian ia kembali lagi. ''Ya Muhammad, Tuhan telah berfirman kepadamu, 'Barang siapa yang sebulan sebelum kematian mau bertobat, maka tobatnya akan diterima','' kata Jibril.

''Wahai Jibril, waktu sebulan itu bagi umatku juga terlalu lama,'' kata Nabi saw. Jibril pergi lagi dan tidak lama kemudian kembali. ''Ya Muhammad, Tuhan berfirman kepadamu, 'Barang siapa bertobat kira-kira satu jam sebelum meninggal, maka tobatnya akan diterima'.''

''Satu jam masih terlalu lama bagi umatku,'' jawab Nabi saw. Jibril pergi dan tidak lama kemudian sudah kembali lagi. ''Wahai Muhammad, Allah menyampaikan salam kepadamu. Lalu berfirman, 'Barang siapa sepanjang hidupnya bergelut dengan kemaksiatan, dan belum kembali kepada-Ku sebelum meninggal dunia, kira-kira setahun atau sebulan, sehari atau satu jam, sampai rohnya ditenggorokan, ia tidak dapat berkata atau mengajukan alasan dan menyesal dalam hatinya, maka akan Kuampuni dia'.''

Itulah rahmat Allah. Itulah kebijaksanaan Nya. Jika seseorang mau sungguh-sungguh bertobat, Dia akan mengampuninya. Namun, janganlah kita lalu menganggap enteng pertobatan itu sehingga kita menunda-nunda terus. Kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Boleh kita rencanakan bertobat pada hari lusa, namun bagaimana jika Malaikat Izrail datang esok pagi.

Allah maha bijaksana, namun demikian janganlah memandang mudah masalah tobat ini. Manusia adalah tempat salah dan dosa. Jika tobat ditunda-tunda terus, kekotoran hati akan bertambah. Akhirnya, kita jauh dari hidayah. Kalau jauh dari hidayah, seseorang semakin malas untuk bertobat.

Oleh karena itu, rasa takut terhadap dosa harus ditanamkan dalam hati. Kesadaran bahwa dosa itu berdampak buruk pada jiwa harus benar-benar direnungkan. Apabila perasaan itu sudah mengakar dalam hati, kita akan terdorong untuk melakukan tobat dan pasti tidak akan menundanya. Waallahu a'lam.
READ MORE - Saat Terakhir
Share/Bookmark

Reformis dan Penjahat

Manusia merupakan puncak tertinggi ciptaan Tuhan. Allah SWT berkenan menganugerahkan kepada manusia berbagai kemampuan dan kecerdasan, antara lain kecerdasan berpikir (IQ), kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), dan kecerdasan sosial (CQ).

Oleh karena itu, manusia pantas dinobatkan sebagai wakil Tuhan atau khalifah Allah di muka bumi (Al-Baqarah: 30). Sebagai khalifah manusia mengemban tugas untuk memakmurkan alam atau bumi. Dalam Alquran, upaya pemakmuran dan perbaikan bumi ini dinamakan 'reformasi bumi' (ishlah al-ardh). Ishlah berasal dari kata shalaha yang secara bahasa berarti baik, lawan dari buruk atau jahat (dhidd al-fasad).

Kata shalah sejauh penggunannya dalam Alquran selalu dilawankan dengan kerusakan (fasad) dan keburukan (sayyi'ah). Ini mengandung makna bahwa di satu pihak ishlah itu merupakan komitmen untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan lebih beradab di muka bumi. Di lain pihak, ishlah berarti komitmen dan tekad yang bulat untuk melawan dan memerangi kejahatan (fasad). Fasad, menurut pemikir Islam Prof Fazlur Rahman, menunjuk kepada keadaan kacau balau, instabilitas, atau keadaan chaos yang ditimbulkan oleh berbagai ketimpangan sosial baik politik, hukum, ekonomi, maupun pertahanan dan keamanan.

Dalam kaitan ini, manusia pada hakikatnya terbagi menjadi dua golongan saja, yaitu golongan reformis (mushlih) dan golongan penjahat atau mufsid (Al-Baqarah: 220). Menurut ahli tafsir Rasyid Ridha, golongan reformis dipahami sebagai man yakti bi al-ishlah 'amalan (orang yang senantiasa melakukan perbaikan), sedangkan golongan penjahat dipahami sebagai man yakti bi al-ifsad fi'lan (orang yang senantiasa membuat kejahatan atau kerusakan). Kedua golongan ini terus bersaing dan bertarung berebut pengaruh di tengah masyarakat. Ironisnya, untuk memperoleh simpati rakyat, golongan penjahat pun mengaku sebagai reformis.

Perhatikan ayat ini, ''Dan bila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi', mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami adalah kaum reformis, yaitu orang-orang yang menciptakan kebaikan'.'' (Al-Baqarah: 11). Konflik kelompok reformis dengan kelompok kejahatan ini akan berjalan sepanjang waktu dan merupakan konflik abadi yang menggambarkan pertentangan antara yang hak dan yang batil, antara yang baik dan yang buruk.

Namun, perlu diketahui, dalam konflik ini kemenangan pada akhirnya akan berpihak kepada golongan yang benar. Ini merupakan ketetapan dan janji Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. ''Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.'' (Al-Anbiya: 105). Agama diturunkan dan para nabi diutus oleh Allah SWT pada hakikatnya hanya untuk membuktikan kebenaran janji-Nya itu, dan agar manusia memahami kalau kekhalifahan manusia dan tugas pokoknya yang sangat fundamental, yaitu reformasi bumi (ishlah al-ardh). Lain tidak! Wallahu a'lam!
READ MORE - Reformis dan Penjahat
Share/Bookmark

Rahmat dan Azab

Adalah sudah menjadi keyakinan setiap orang beriman bahwa meskipun rahmat dan azab bersumber dan berasal dari Allah SWT, dan hanya Dia Yang Maha Mengetahui kapan turunnya kepada seseorang atau pada suatu bangsa, namun kedua hal tersebut sesungguhnya diundang oleh perilaku manusia sendiri. Allah SWT adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mustahil berlaku zalim kepada manusia dan makhluk lainnya. Rahmat dan ampunan-Nya lebih luas dari azab dan murka-Nya. Allah SWT berfirman, ''... dan tidaklah Allah berlaku zalim kepada manusia, tetapi manusialah yang berlaku zalim pada dirinya.'' (Ar-Ruum: 9).

Keimanan dan ketakwaan yang diimplementasikan dalam kesalehan individual dan kesalehan sosial akan menjadi penyebab utama turunnya rahmat dan keberkahan dari Allah SWT. Sebaliknya, kekufuran, kemusyrikan, kemaksiatan, serta pendustaan kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia, akan menyebabkan turunnya azab dan malapetaka. Perhatikan Firman-Nya (Al-A'raaf: 96), ''Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.''

Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Mas'ud dan Ibn 'Assakir, Rasulullah SAW menyatakan bahwa sumber malapetaka dan azab itu ada tiga, yaitu takabur (sombong), hasad (iri dan dengki), dan tamak (rakus). Ketakaburan dan kesombongan menyebabkan seseorang atau suatu bangsa tidak akan pernah menyadari segala kekeliruan, kesalahan, dan kekurangan. Mereka tidak akan pernah mau mengambil pelajaran dan nasihat dari berbagai macam fenomena yang terjadi, baik fenomena sosial maupun alam. Hatinya telah tertutup oleh kekotoran dan keangkuhan. Karena itu, nasihat tidak akan pernah mau diterimanya.

Hasad atau iri akan menyebabkan kedengkian dan permusuhan kepada orang lain yang mendapatkan berbagai macam anugerah dari Allah SWT. Segala macam cara akan dipergunakan untuk menghambatnya. Sifat ini akan menyebabkan apriori terhadap orang lain yang memiliki berbagai macam kelebihan. Maka, akan muncullah dendam dan permusuhan yang relatif abadi.

Sedangkan rakus dan tamak akan menumbuhkan sikap egoistis, pragmatis, dan materialis. Jika sifat ini menimpa seseorang atau suatu bangsa, maka ia akan menjadi budak dari kehidupan dunia yang sifatnya sesaat, seperti materi, kedudukan, jabatan, dan kekuasaan. Semua cara akan dihalalkan untuk meraihnya.

Jika semua hal tersebut terjadi pada sebagian besar masyarakat dan bangsa kita, apalagi bila menghinggapi para pemimpin yang mendapatkan amanah jabatan publik, maka sama dengan mengundang turunnya azab Allah. Rahmat, karunia, dan keberkahan hidup akan semakin jauh dan semakin sulit untuk diraih dan dijangkau. Karena itu, mari kita tingkatkan kualitas perilaku kita semua ke arah yang lebih baik, lebih produktif, dan lebih amanah, agar yang turun rahmat dan pertolongan-Nya dan bukan azab dan kemurkaan-Nya. Wallahu a'lam.
READ MORE - Rahmat dan Azab
Share/Bookmark

Puasa dan Pembaruan

Inti dari ibadah puasa Ramadhan yang kita laksanakan adalah adanya pengendalian diri dari berbagai hal dan perilaku yang dapat membatalkan puasa maupun pahala puasa. Sehingga, di akhir Ramadhan kita dapat meraih derajat orang bertakwa dan kembali menjadi fitri. Dan, nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa dapat dilaksanakan dengan konsisten pada bulan-bulan berikutnya. Inilah makna puasa yang sesungguhnya.

Dalam konteks ini, ibadah puasa merupakan cara melakukan pembaruan, baik mental, jasmani, maupun rohani yang dapat dilaksanakan oleh pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bangsa secara kolektif. Pembaruan mental yang dimaksud adalah tumbuhnya mental-mental pejuang yang dapat mengalahkan berbagai macam rintangan dan godaan.

Orang yang berpuasa dengan benar, misalnya, akan menahan lapar dan dahaganya, meskipun ia memiliki kesempatan untuk membatalkannya ketika tidak ada orang yang melihat. Namun, berpuasa mengajarkan manusia untuk jujur kepada dirinya dan menyadari betapa Allah mengawasinya. Karenanya, Allah mengatakan dalam hadis qudsi, ''Sesungguhnya puasa seorang anak Adam adalah untuk-Ku. Dan Aku yang akan memberikan balasannya.''

Selain itu, pembaruan mental lainnya adalah tumbuhnya semangat saling membantu dan egaliter. Berpuasa mengikis rasa egois dan individualistis. Sebaliknya, puasa justru akan menumbuhkan rasa solidaritas serta kesetiakawanan. Dalam konteks kehidupan sebagai bangsa, pemimpin dan wakil rakyat yang berpuasa dengan benar semoga akan memiliki keberpihakan yang lebih jelas kepada rakyat yang memilihnya dan mereka dapat membuang jauh-jauh sifat untuk mementingkan pribadi atau kelompok, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Sedangkan pembaruan jasmani adalah lahirnya pribadi-pribadi yang memiliki kesehatan yang prima. Berpuasa, sebagaimana dikatakan para pakar kesehatan, dapat meningkatkan kesehatan dan vitalitas. Dengan berpuasa, maka kita memberikan kesempatan kepada tubuh untuk melakukan metabolisme secara sempurna.

Menyangkut pembaruan rohani, dengan berpuasa dapat melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa. Ini, sebagaimana Allah SWT firmankan, ''Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.'' (QS 2: 183).

Pribadi yang bertakwa akan melahirkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia dan bermoral. Inilah bekal terbaik dalam mewujudkan masyarakat dan bangsa yang beriman dan bermoral, sehingga dapat mengundang keberkahan Allah. Allah SWT berfirman, ''Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.'' (QS 7: 96).

Pada saat ini, ibadah puasa berbarengan dengan dimulainya pemerintahan baru dari presiden terpilih. Semoga pemerintahan baru dapat mengaplikasikan nilai-nilai dan hikmah yang terkandung dari ibadah puasa, sehingga perubahan dan pembaruan yang diinginkan tidak hanya sekadar wacana. Tetapi, juga dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dengan dilandasi kesadaran moral yang tinggi bahwa jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Wallahu a'lam bis-shawab.
READ MORE - Puasa dan Pembaruan
Share/Bookmark
free counters